π― Materi Abundance Race 19π―
π§π»♂️ KESADARAN MENCIPTAKAN REALITASπ§π»♀️
Setidaknya begitulah kesimpulan mendasar para ahli fisika kuantum tentang konstruksi semesta ini. Realitas tidak akan terjadi hingga adanya sebuah pengamatan atau pengukuran.
“Saya menganggap kesadaran itu fundamental. Saya menganggap materi sebagai turunan dari kesadaran. Kita tidak bisa meletakkan kesadaran di belakang. Segala sesuatu yang kita bicarakan, segala sesuatu yang kita anggap ada, diciptakan oleh kesadaran “ Max Planck pemenang Nobel Fisika 1918.
RC Henry, Profesor Fisika dan Astronomi di Johns Hopkins University mengatakan bahwa: “Kesimpulan mendasar dari fisika baru mengakui bahwa pengamat menciptakan realitas. Sebagai pengamat, kita secara pribadi terlibat pada penciptaan realitas kita sendiri. Para Fisikawan harus mengakui bahwa alam semesta adalah konstruksi “mental”.
Sir James Jeans, seorang Fisikawan perintis menulis: “Aliran pengetahuan sedang menuju ke arah realitas non-mekanik; alam semesta mulai terlihat lebih seperti pikiran besar daripada sebuah mesin besar. Pikiran tidak lagi muncul menjadi penyusup yang disengaja masuk ke ranah materi, kita bisa menganggapnya sebagai pencipta dan pengatur dari alam materi. Lampaui pemikiran usang, dan terima kesimpulan yang tidak terbantahkan ini. Alam semesta adalah non materi, mental dan spiritual”.
Satu hal yang pasti yaitu ‘kesadaran’, atau, faktor yang berhubungan dengan kesadaran (pengamatan, pengukuran, pemikiran, persepsi, niat) ini memiliki korelasi langsung dengan apa yang kita anggap sebagai realitas dunia materi fisik kita.
Pengetahuan memberikan informasi, dan informasi mengubah pemahaman. Itu sebabnya … setidaknya bagi saya, apa yang telah Tuhan firmankan di ayat ini telah sangat gamblang dan jelas:
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. Al- Jatsiyah :13)
Ada lagi sebuah pernyataan Tuhan tentang realitas semesta: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menuju) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah :29)
Ketika pemahaman kedua ayat tadi digabungkan maka esensinya adalah bumi dan langit diciptakan dan ditundukkan untuk manusia sebagai bentuk kasih sayang Tuhan pada manusia.
Bagaimana cara tunduknya ?
Bagaimana proses runtuhnya sifat “gelombang” pada samudra kemungkinan menjadi sebuah realitas ?
Jawabnya adalah dengan jalan pengamatan, pengukuran, pemikiran, persepsi atau niat yang dihasilkan oleh manusia, dimana semua hal tersebut adalah CIRI-CIRI SEBUAH KESADARAN.
Percobaan kuantum celah ganda (double slit experiment ) yang diinisiasi oleh Thomas Young adalah eksperimen sangat populer yang digunakan untuk memeriksa bagaimana kesadaran dan dunia material fisik kita saling terkait. Ini adalah contoh yang bagus yang mendokumentasikan bagaimana faktor-faktor yang berhubungan dengan kesadaran dan dunia materi fisik kita saling terhubung.
Salah satu kesimpulan percobaan ini adalah bahwa
“Pengamat menciptakan realitas.” Dean Radin, PhD, menjelaskan bagaimana percobaan ini telah digunakan beberapa kali untuk mengeksplorasi peran kesadaran dalam membentuk realitas fisik, pada makalahnya yang diterbitkan dalam jurnal Physics Essays.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa
Pola pikir kita,
Mindset kita,
Sangka kita,
Kehendak bebas kita,
Niat kita,
Cara pandang kita terhadap stimulus yang menghampiri kitalah yang menghadirkan realitas bagi kita sendiri. Respon kita adalah realitas yang kita hadirkan dalam hidup kita.
Dari kecil saya dicekoki sebuah ritme hidup π€: dilahirkan, dibesarkan, dipilihkan sekolah, mulai diajari agar milih sekolah yang kalau lulus mudah dapat pekerjaan, bekerja yang menghasilkan uang banyak, yang basah, berkeluarga, dan dapat uang pension. Pola yang sama kemudian diajarkan pada semua orang.π
Sehingga pola pertanyaan yang berkembang sekarang dimasayarakat kita pun masih tetap sama, setelah lulus sekolah kerja dimana ?, gajinya berapa? Sekarang posisinya apa ? Nah g heran kanπ
Rentetetan pertanyaan standar. Seolah hidup hanya untuk bekerja dan menghasilkan uang serta kedudukan. Tidak heran Noam Chomsky mengatakan bahwa pilihan kita telah di produksi. Siapa yang memproduksi ? tentu saja cara pandang masyarakat secara umum, inilah yang disebut kesadaran kolektif. Tanpa sadar kita telah dibentuk menjadi robot oleh kesadaran kolektif kita.
Jika kita terus mengikuti pola ini dan memandang bahwa ”hanya itu satu-satunya cara,” kita hanya memperpanjang keberadaan dan pengalaman bagi umat manusia tanpa pernah merubahnya...π€ππ»
Tentu saja semua orang boleh punya pilihan dan nyaman dengan pilihan tersebut, namun ketika kita menyadari untuk apa kita diciptakan maka pertanyaan-pertanyaan standar tadi idealnya kita rubah.
Setelah lulus sekolah apa karya yang akan dihasilkan untuk membantu sesama ? Kontribusi apa yang dipilihnya untuk berperan dalam mekanisme semesta ?
Ketika kesadaran kolektif sudah mulai merubah pertanyaan, maka hasil akhirnyapun akan berbeda, generasi berikutnya bukan menjadi generasi robot namun generasi makna. Generasi yang mengerti untuk apa ia diciptakan di dunia ini.
Dalam rangka menciptakan dan mewujudkan realitas baru bagi diri kita sendiri, pola pikir dan cara kita memandang realitas harus berubah.
Apa yang mengubah cara kita memandang realitas? Informasi. Benar informasi adalah kuncinya, pengetahuan memberikan informasi, dan informasi bisa merubah pemahaman kita.
Ketika informasi baru muncul mengubah cara pandang kita, maka sebagai hasilnya, terjadi perubahan realitas kita, dan kita mulai mewujudkan pengalaman baru dan membuka pikiran kita untuk pandangan yang lebih luas dari realitas awal kita.
Pemahaman yang kita dapatkan dari model fisika kuantum adalah bahwa, jika faktor-faktor kesadaran berhubungan dengan penciptaan realitas kita, itu berarti perubahan dimulai dari dalam.
Dimulai dengan cara bagaimana kita mengamati dunia luar dari dunia batin kita. Ini menyentuh titik awal dari bagaimana kita memandang realitas kita. Persepsi kita tentang dunia luar adalah refleksi dari dunia batin kita, keadaan batin kita.
Itu sebabnya saya coba menyimpulkan kesimpulan tentang “Jiwa Tenang Rezeki Lapang, Jiwa Ruwet Rezeki Seret”.
Faktanya, kita memang pengamat, kita dapat menciptakan perubahan dan merubah pola lama untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru, mengubah arah kita, semua melalui cara di mana kita mengamati diri kita sendiri, orang lain dan dunia di sekitar kita.
Bukankah Tuhan telah memberi arahan pada kita bahwa Tuhan tidak akan merubah suatu kaum hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada dalam dirinya ?
Baiklah…, saya merasa beruntung hidup dijaman dimana pengetahuan akhirnya memberikan informasi yang memudahkan saya memahami makna-makna yang ditebarkan oleh Allah Tuhan semesta alam dalam kitab-kitab Sucinya yang berupa mushaf dan hamparan alam semesta.
Hari ini adalah bulan ramadhan tahun ke sekian bagi kita masing-masing, tahun semakin menua demikian juga dengan umur kita. Tahun dimana semua level kesadaran kita idealnya menaik dari egosentris, melampaui komunal sentris dan menuju ke jagat sentris atau yang lebih dikenal dengan rahmatan lil alamin... rahmat bagi semesta....
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


