Monday, December 14, 2020

Artikel 04

 •┈┈••┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈••┈┈•

SAAT MENGELUARKAN UANG NIATKAN UNTUK "MENYALURKAN REJEKI", ATAU MEMBERI SUMBANGAN"

•┈┈••┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈••┈┈•

By : Hermawan GS


Tanya:

Bp Hermawan selamat pagi, saya mau tanya bagaimana menghilang kan perasaan khawatir waktu bp memberi /mentraktir orang lainπŸ˜…?

Apakah dg self talk mis: "Dengan memberi, Tuhan akan mengganti dg nilai lebih besar...."


Jawab:

Waktu dulu saya melakukan kebiasaan utk memberi & berbagi, dg cara mentraktir orang lain, saya sendiri juga ga pernah berpikir atau berharap bahwa pemberian saya akan mendapatkan balasan dari Tuhan, dg nilai lebih byk atau rejeki yg berlimpah ruah...

Yang saya rasakan, saya memberi karena saya merasa senang & happy ketika saya bisa membuat orang lain tersenyum happy, itu saja..😊

Dan tidak ada motif atau modus lain..πŸ˜‚

Ok saya akan bahas hal ini lebih mendalam....

Kebiasaan ini terus saya lakukan sampai dg saat ini, ya memang karakter senang membantu😊, meringankan, memudahkan, dan menolong orang lain bagi saya adalah hal yg sangat menyenangkan...😊

Sering anak saya menanyakan kebiasaan saya membeli sesuatu yag kadang saya sendiri tdk membutuhkan...

Contohnya,

Saya memborong membeli buah pisang seharga 100 ribu yg dijual seorang nenek² yg duduk di pelataran depan ruko, padahal nantinya buah pisang tersebut saya makan hanya 1-2 biji, & sisanya saya bagikan ke tetangga rumah...

Atau ketika saya memborong sekeranjang jualan seorang kakek² yg menawarkan dagangan otak² kepada saya ketika saya sedang menikmati makan siang bersama istri, awalnya saya merasa kasihan melihat banyak pengunjung restoran yg menolak dagangannya...

Tapi rasa kasihan itu berganti rasa ingin membantu, menolong, meringankan beban hidup, & membahagiakan orang lain... seketika rasa ingin berbagi rejeki lebih dominan menyelimuti hati saya.

Saya merasa kehadiran kakek penjual otak² di depan saya bukanlah sebuah kebetulan, saya yakin Allah sedang mengingatkan saya, agar saya menyalurkan rejeki yg Allah amanahkan kepada saya utk disalurkan lagi kepada kakek ini..😊

Maka saya panggil kakek² itu, tanpa saya tawar sama sekali, saya borong semua dagangannya...😊

Setelah saya bayar semua isi keranjang dagangannya, saya minta kpd kakek penjual tersebut membagi-bagikan otak² nya kpd semua pengunjung restoran yg sedang menikmati makan siang..😊

Anehnya, giliran dikasih gratis, para pengunjung restoran mau menerima otak² pemberian kakek ini, bahkan ada beberapa pengunjung yg mintanya bukan cuma 1 plastik(1 bungkus plastik isinya 10 otak-otak), tapi minta 2 bungkus plastik..πŸ˜‚πŸ˜‚

Hehehe..apa karena dikasih Gratis ya? πŸ˜‚πŸ˜‚

Atau sering saya membeli minuman Air Mineral botol yg ditawarkan di perempatan lampu merah, saya beli 50 ribu(20 botol), saya ambil 2 botol, & sisanya 18 botol saya minta kpd penjualnya agar dibagikan ke mobil/pengendara sepeda motor yg ada disekitar mobil saya..😊

Dan banyak lagi contoh² yg lainnya..

Bagi saya, setiap saya membeli sesuatu, apakah sesuatu tersebut memang benar² saya butuhkan, atau tdk saya butuhkan, saya selalu Niatkan utk menyalurkan rejeki yg sudah saya terima kepada orang lain..

πŸ‘‰ Termasuk apakah saya beli buku, ikut seminar, ikut training, beli baju, beli sepatu, makan di restoran, makan di warung kaki lima, dlsb.. selalu saya niatkan bukan utk mendapatkan sesuatu, tapi saya niatkan utk berbagi sesuatu(berbagi rejeki)...

Dengan niat menyalurkan rejeki yg saya terima kepada sesama..dan vibrasi yg saya rasakan berbeda rasanya, ada suatu rasa yg sensasi happynya tak bisa diungkapkan dg kata²...

Hanya pribadi yg hobby berbagi yg bisa merasakan "sensasinya".😊


❤️ Sejak saya menyadari perbedaan vibrasi(rasa) yg muncul ketika saya membeli dg niat utk "menyalurkan" sebagian rejeki, secara perlahan tapi pasti, pintu² rejeki seolah terbuka lebar...

Apapun usaha yg saya jalankan, semua mudah & dimudahkan Tuhan, seolah apapun yg saya sentuh selalu menghasilkan uang, apapun yg saya kerjakan membawa banyak keberuntungan..

Tdk ada lagi rasa berat utk mengeluarkan uang, tdk ada lagi rasa sayang utk membelanjakan uang...

Sebab, setiap saya membeli barang²/sesuatu yg saya butuhkan, saya bukan hanya perasaan senang yg saya rasakan ketika mendapatkan apa yg saya inginkan, 

Tapi yg paling mendominasi adalah perasaan bahagia bisa menjadi saluran rejeki orang lain, perasaan berlimpah rejeki, & rasa syukur, sebab Tuhan masih memberikan kesempatan kepada saya utk menjadi penolong, menjadi berkat, & menjadi penerang jalan² gelap hidup byk orang..

Dulu sebelum saya memiliki kesadaran ini, saya sering berhitung-hitung dahulu sebelum membelanjakan uang, ada perasaan berat utk mengeluarkan uang..

Maka jika tidak benar² membutuhkan, saya tdk akan mengeluarkan uang utk membeli sesuatu...

Dulu saya juga memiliki keyakinan yg sama dg sebagian besar orang, dg prinsip,

πŸ˜‚ "Hemat itu pangkal kaya.." πŸ˜‚

Padahal ternyata tidaklah demikian, karena segala hal yg dilakukan seseorang itu tergantung niatnya, dan rasa yg hadir saat mengerjakannya..

Saat seseorang berniat hidup hemat, membatasi anggaran belanja, biasanya rasa yg muncul adalah takut uangnya berkurang, takut tdk memiliki cadangan uang, takut miskin, dslb.

Maka itulah yg dipancarkan ke semesta..dan semesta akan menangkap/merekam itu sebagai permintaan...

πŸ‘‰ Dan jangan salahkan, jika kehidupan seseorang justru semakin sulit hidupnya, semakin terlilit banyak hutang, semakin miskin, dan semakin memprihatinkan..

Orang² seperti ini hanya akan menyakiti dirinya sendiri. 

Ia bersusah payah mengumpulkan harta agar menjadi orang yang kaya raya, tetapi dia bakhil tdk ingin mengeluarkan hartanya, dg tujuan agar dirinya terhindar dari kefakiran...

Namun kenyataannya, ia justru terjerumus pd kondisi yg ingin dihindarinya yaitu kefakiran...

Kehidupannya dihimpit kemiskinan. Ia hidup benar-benar miskin di dunia, namun di akhirat dia akan dihisab dengan hisabnya orang kaya....

Sungguh benar perkataan seorang ulama,

“Orang (kaya) yang pelit itu gaya hidupnya gaya hidup orang miskin, tetapi hisabnya hisab orang kaya..”

"Ingatlah, kalian adalah orang-orang yang diminta untuk menafkahkan sebagian harta kalian di jalan Allah, namun di antara kalian terdapat orang-orang yang bakhil. Siapa pun yang bersikap bakhil (kikir), maka sesungguhnya ia bakhil (kikir) terhadap dirinya sendiri, sebab Allah Maha Kaya dan kalian adalah orang-orang miskin..'' (QS.Muhammad: 38).

"Barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Tapi jika seseorang mengeluarkan/membelanjakan uang dengan niat untuk melayani kehidupan dengan membantu, menolong, memudahkan, meringankan hidup orang lain..

Dengan niat tulus memberi, berbagi, menyalurkan sebagian rejeki yang diterima nya kepada sesama, secara otomatis rasa yang muncul dalam dirinya akan berbeda...

Rasa yang muncul biasanya adalah rasa kaya raya, rasa kebercukupan, rasa berlimpah banyak uang, rasa senang, gembira, bahagia, dan rasa syukur yang luar biasa..

πŸ‘‰ Sebab dirinya masih mampu menjalankan salah satu perannya sebagai kholifah bumi, sebagai penjaga kehidupan bumi, memastikan roda kehidupan terus berjalan sesuai kehendakNya...

Itulah kenapa ia senang bisa menjadi jalan rejeki, menjadi sumber keberuntungan, dan kesejahteraan bagi sesama...

Perasaan senang melihat orang lain senang, bahagia melihat orang lain bahagia, merasa beruntung bisa membuat orang lain merasa beruntung..ini adalah perasaan yang senantiasa mendominasi hidupnya...

Dan otomatis, niat dan rasa yang muncul ini akan di tangkap/direkam oleh semesta sebagai permintaan(Do'a tanpa hijab)...

Sehingga sangatlah wajar jika kehidupan seseorang seolah seperti diliputi kemudahan, keberuntungan, keberlimpahan, dan keajaiban hidup yang tiada pernah berhenti menghampirinya..

Jadi membeli bagi saya bukanlah soal mengeluarkan uang, menghabiskan uang, untuk mendapatkan, atau memiliki sesuatu...

Tapi ini soal amanah, apakah amanah rejeki yang diberikan Tuhan kepada saya, sudah saya salurkan kepada sesama?

Itulah kenapa saya selalu bersyukur setiap saya telah membayar sesuatu, dengan mengatakan begini,

"Ya Allah Ya Robb, Alhamdulillah...aku sudah tunaikan kewajibanku, untuk menyalurkan sebagian rejeki pemberianMu kepada sesamaku.."

"Terima kasih Ya Robb, karena sampai dengan saat ini Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa berbagi kegembiraan dan kebahagiaan kepada sesamaku.."

"Terima kasih Ya Robb, atas segala kesehatan, kemudahan, keberuntungan, keberlimpahan hidup yang Engkau berikan kepadaku sampai dengan saat ini.."

"Ya Allah Ya Robb, aku siap untuk menerima limpahan rejeki, dan keajaiban-keajaiban hidup dariMu, dan aku siap untuk menyalurkannya kembali kepada sesamaku..aamiin.."

Sahabat..

Bukankah Allah sudah menjamin,

“Orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.."(QS.Al-Baqarah : 261)


⭐ Pada ayat lain Allah mengatakan,

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265)

"Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.."(QS. Saba' : 39)

"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.."(QS. A-Hadid : 7)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka AllΓ’h melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Itulah kenapa, termasuk dalam hal pengeluaran untuk pembayaran internet rumah, PLN, PDAM, biaya sekolah/kuliah anak, iuran kebersihan dan keamanan perumahan, dan sejenisnya saya niatkan juga untuk berbagi rejeki...

Kalau di workshop saya, selalu saya sampaikan, agar saat mengeluarkan biaya rutin rumah tangga agar ga terasa berat, dan ringan untuk dilakukan, anggap saja anda sedang membayar sumbangan...

Toh sama-sama anda keluarkan/bayar iuran, mengapa tidak anda anggap saja sebagai sumbangan, kan pasti lebih nyaman rasanya, dibandingkan anda merasa bayar iuran?

Niat anda vibrasi anda saat mengeluarkan sumbangan pasti berbeda sensasinya...

Saat anda niatkan untuk nyumbang, dalam diri anda akan muncul perasaan anda memiliki banyak uang, perasaan berlimpah rejeki, perasaan berkecukupan...

Hal ini akan membuat anda merasa enteng dan ringan saat anda membayar tagihan-tagihan, sebab anda tidak merasa sedang membayar tagihan? tapi anda sedang menyumbang...

Itulah kenapa pada akhirnya setiap akhir bulan, saat tagihan datang, anda senang sekali mengeluarkan sumbangan..

Hanya orang-orang yang memiliki mental berkelimpahan yang punya hobby menyumbang..

Jadi sebagai suami setiap bulan, anda bisa nyaman ngobrol dengan pasangan begini,

"Mah bulan ini sumbangan untuk karyawan Telkom sudah dibayar atau belum?"

"Sumbangan untuk karyawan PLN, sumbangan untuk karyawan PDAM, sumbangan untuk Guru-guru sekolah anak-anak sudah ditunaikan belum?"

"Termasuk sumbangan untuk petugas kebersihan, petugas keamanan perumahan?"

Atau,

"Mah buruan keluarin sumbangan rutin kita, soalnya kasihan kalau nanti karyawan PLN, PDAM, Guru, Dosen, Petugas kebersihan, Petugas keamanan perumahan dan keluarganya sedih sebab kita telat ngasih sumbangannya.."

"Kan kasihan mereka jika sumbangan kita telat, padahal sumbangan kita mereka butuhkan untuk memenuhi kehidupan keluarga mereka sehari-hari.."

Atau, setiap awal bulan sebagai istri ngomong begini,

"Alhamdulillah ya Pah, bulan ini kita sudah nyumbang buat Karyawan Telkom, Karyawan PLN, Karyawan PDAM, Pegawai dan Guru-guru Sekolah, Rektor, Dosen Kampus anak kita, pemilik kos-kosan, sebesar 10 juta lebih.."

"Alhamdulillah semuanya tertunaikan...semoga sumbangan yang kita berikan kepada mereka menjadikan hidup mereka sejahtera ya Pah?"

Bisa kan anda bedakan sensasi rasanya?

Saat anda membayar iuran bulanan, dibandingkan saat anda mengeluarkan sumbangan?


Let's Transform!

πŸ™

HGS

Artikel 03

 •┈┈••┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈••┈┈•

MENGAPA BANYAK KULI SEUMUR HIDUP MENJADI KULI? (Part-3)


Sepertinya tulisan dg judul diatas cocok utk dijadikan judul buku saya yg berikutnya, sebab jika saya mau ceritakan mengenai pengalaman saya saat masih menjadi kuli bisa sangat panjang sekali..😊

Apalagi jika saya menulisnya dimulai saat saya dulu masih menjadi pembantu rumah tangga selama 3 tahun di rumah orang, lalu lulus sekolah menjadi anak jalanan, pedagang asongan, kuli bangunan, dan seterusnya..

Hhmm..

Bisa berjilid-jilid episodenya..πŸ˜…

Dulu ketika saya menjadi pembantu rumah tangga, dari awal niat saya hanya ingin melanjutkan sekolah saya, yg penting saya bisa lulus sekolah, entah saya mau dibayar berapa itu bukan menjadi tujuan saya..😊

Seingat saya, biaya sekolah waktu saya masuk STM Negeri 1 Surabaya sekitar 5 ribu/bulan, kalau utk ukuran sekarang dg kurs dollar yg saat ini 14 ribuan, mungkin kurang lebih biaya sekolah saya sekitar 350 ribuan/ bulan, jika dulu kurs 1 dollar masih 2000 an..πŸ˜…

Jadi masih tetap terhitung sangat murah sekali saya dibayar, sebab PRT dirumah saya saat ini saja saya gaji 2,5 juta/bulan.. πŸ˜…

Apalagi waktu itu saya bukan hanya bertugas membereskan segala keperluan rumah tangga, nyapu, ngepel lantai, nyuci piring, nyuci baju, seterika baju, mandiin anak² yg masih kecil², masak nasi, ngerebus air, dan lain -lain, tapi saya juga harus bangun pagi² sekali utk mempersiapkan keperluan dagang majikan saya..

Saya sangat bersyukur sekali dulu punya majikan yg luar biasa pekerja keras, ulet, tekun, dan gigih sekali dlm mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya..😊

Majikan saya ini bukanlah orang yg berpendidikan tinggi, bahkan sekolah SD saja ga lulus, dg latar belakang hidup yg sangat keras, sebab sebelum ia memutuskan utk menikah, ia adalah seorang preman yg sangat disegani di kota surabaya, sudah kenyang keluar masuk penjaraπŸ˜…, sudah pernah membunuh orang, dg tatto yg memenuhi sekujur badan, dari ujung kaki hingga ujung kepala..πŸ˜…

Majikan saya ini kabur dari surabaya & bersembunyi di sebuah kampung kecil dipelosok desa, hanya untuk menghindari ancaman PETRUS(Penembak Misterius) yg waktu jaman presiden Soeharto sempat menjadi momok yag menakutkan para penjahat & preman di indonesia..πŸ˜‚

Lalu ia memutuskan menikah dg seorang gadis yg bekerja sebagai buruh pabrik, & bertekad utk memulai hidup baru menjadi orang baik, dg kebiasaannya mengenakan baju lengan panjang utk menutupi tattonya..😊

Saya belajar banyak dari majikan saya ini soal bagaimana membangun bisnis, ya ia adalah Guru Besar Bisnis, sekaligus Guru Kehidupan saya..

Ia mendemonstrasikan secara langsung kepada saya, bagaimana cara mengubah dan men"transformasi" hidup, dari seorang yang sebelumnya menjadi sampah masyarakat berubah menjadi seorang yang bermartabat dan terhormat

Jika saat ini ia memiliki kehidupan yg berlimpah banyak materi/uang, menurut saya itu sangat wajar sekali..😊

Sebab ketika beberapa tahun yg lalu saya mampir kerumahnya, ia sekarang sudah menjadi juragan kos-kosan dan rumah kontrakan, dan bisnis burung kicaunya tetap berjalan sampai dg sekarang..

Saat ini yg menjadi kesibukannya ya jual beli burung kicau dan momong cucu di rumah..πŸ˜‚

3 orang anaknya yg dulu masih kecil² sudah menikah semua, dan sudah memiliki anak, dan yg membuat saya takjub adalah, ketiga anak gadisnya semuanya dinikahi oleh TNI dan Polisi, padahal ia sendiri adalah mantan preman buronan negara..hehehe..πŸ˜‚πŸ˜‚

Itulah hidup, kadang tdk bisa ditebak, akhir cerita dari kehidupan seseorang..πŸ˜‚πŸ˜‚


Ok, kembali ke laptop..

Dulu, saya sudah belajar dan praktek langsung bagaimana mengelola waktu dengan efektif dan efisien selama 3 tahun ketika menjadi PRT..

Saya harus bisa mengatur waktu, disamping saya harus tuntas dengan nilai baik disekolah, saya juga harus sukses merapikan/membereskan urusan rumah, tapi saya juga harus bisa mempersiapkan segala keperluan dagang majikan saya..😊

Sebab, majikan saya jika pagi sampai sore, ia jualan makanan dan minuman di depan pabrik, lalu malamnya usai sholat maghrib, saya juga harus menyiapkan gerobak dorong utk jualan jamu seduh keliling hingga tengah malam baru balik pulang..

YA😊, setelah urusan rumah beres, sepulang sekolah saya harus berangkat ke warungnya utk membantu jualan nasi melayani para pekerja pabrik, dari menyiapkan gerobak jualan nasi, hingga mendorongnya sampai ke lokasi pabrik, dan ketika pulangnyapun saya juga yg bertugas mendorong gerobaknya sampai dirumah..😊

Dan itu saya lakukan tanpa henti setiap hari, dengan jarak tempuh kurang lebih 1,5 Km😊

Termasuk ketika jualan jamu seduh, saya juga yg kebagian tugas mendorong gerobak jamunya keliling dari kampung ke kampung😊, dg iringan musik dangdut, sambil majikan saya berjalan di belakang..πŸ˜…

Hhmm..

Sudah kebayang kan, betapa sibuknya saya sebagai PRT? πŸ˜…

Anda pasti berpikir, kan pasti ada masa liburnya dong?

Hehehe..majikan saya ini benar² pebisnis tulen, sepertinya ia tdk mau menyia-nyiakan waktu sedikitpun berlalu tanpa menghasilkan uang.. 😊

Ya, setiap hari sabtu-minggu dari pagi sampai sore, ia jualan burung kicau di depan rumahnya, & saya kebagian merawat/membersihkan kandang² burung, makanan & minuman burung..

Nah, yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah,

"Apakah anda siap membayar mahal harga kesuksesan, dengan menukarkan waktu, tenaga, keringat anda?"

"Apakah anda sanggup melakukan banyak hal tapi disisi lain, anda tdk dibayar/dibayar murah?"

Ya, meski saya kehilangan waktu masa remaja, tapi saya mendapatkan gantinya yakni, banyak pelajaran bisnis, dan pelajaran kehidupan yg sangat luar biasa sebagai bekal saya dimasa depan..

Dari sanalah saya belajar, bagaimana melayani sesama tanpa pamrih uang, mengabdi dengan tulus tanpa syarat, dengan mendedikasikan hidup saya dengan memberikan manfaat keberadaan saya bagi kehidupan..

Bagi saya, saya justru sangat bersyukur pernah menjalani sebuah episode kehidupan yg tidak semua orang pernah mengalaminya..πŸ˜ŠπŸ™

Saya bersyukur sebab keberadaan saya sudah bisa memberikan manfaat dan keuntungan bagi orang lain..

Bukannya sudah banyak terbukti orang² hebat dan besar adalah orang² yg bisa memberikan byk manfaat dan keuntungan bagi kehidupan?

Dengan memberikan kontribusi positif yg sebanyak-banyaknya bukan saja kepada sesama manusia, tapi juga alam semesta raya..

Mungkin bagi orang lain, majikan saya terlalu mengeksploitasi ketidakberdayaan (kemiskinan) saya, tapi bagi saya masalah orang lain hanya ingin memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari saya, baik secara tenaga, pikiran, itu adalah urusan mereka, bukan menjadi urusan saya.. 

Tugas saya adalah sebisa mungkin terus memberikan yang terbaik dari diri saya, mengeluarkan seluruh potensi dan kompetensi, yg saya miliki untuk sesama..

Sampai dengan saat ini, bagi saya, tenaga, pikiran, dan Ilmu yang saya miliki ga akan habis hanya sebab saya bagi-bagikan..

Justru saya berterima kasih kepada orang² yg telah memanfaatkan saya, karena dengan begitu keberadaan dan kebermaknaan diri saya memberikan banyak manfaat dan keuntungan bagi orang lain..

Apalagi jika orang tersebut kehidupannya berubah menjadi lebih baik..hhmm..bukankah ini adalah amal jariyah yang dijanjikan oleh Tuhan yang ganjarannya (pahala) tidak akan pernah putus?

Sahabat..

"Jika anda memahami, bahwa semua yang ada didalam diri anda, apa yang anda miliki, bukanlah milik anda, tapi milik-Nya..titipan-Nya..maka anda tidak akan pernah merasa rugi dan takut dimanfaatkan orang.."

Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sebanyak-banyak manusia lainnya?

Itulah kenapa dari dulu saya selalu membiasakan untuk menawarkan diri kepada orang-orang yang mengenal saya dengan mengatakan secara tulus,

"Silahkan manfaatkan saya.."

"Apa yang bisa anda manfaatkan dari saya.?"

"Jika saya bisa memberikan keuntungan kepada anda, saya senang sekali.."

"Membuat anda beruntung itu adalah hobby saya, apa yang harus saya lakukan agar anda beruntung?"

Jadi kalau sampai dengan saat ini anda masih menjadi kuli(karyawan), jangan-jangan selama ini yang ada dalam pikiran anda ketika berhubungan dengan orang lain hanyalah ingin mendapatkan/mengambil keuntungan, dan bukan berpikir bagaimana bisa memberikan keuntungan bagi banyak orang..

Padahal menjadi pribadi beruntung itu sangat mudah sekali, cukup hanya dengan membiasakan membantu, memudahkan, meringankan, menolong, dan menguntungkan hidup orang lain..

Let's Transform!

πŸ™

HGS

Artikel 02

 •┈┈••┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈••┈┈•

MENGAPA BANYAK KULI SEUMUR HIDUP MENJADI KULI? (Part 2)

Mengapa tulisan ini saya lanjutkan lagi?

Sebab saya melihat banyak kuli(karyawan) yg hidupnya masih bermental kuli..😊

Bagi banyak orang, terutama yg masih bermental kuli(tangan dibawah), mentraktir makan orang lain(tangan diatas) adalah sebuah hal yg harus dihindari πŸ˜…, sebab utk makan diri sendiri saja masih susah/sering kekurangan..πŸ˜…

Tapi bagi saya, setiap minggu setelah menerima upah, justru saya rayakan kemenangan saya dg mentraktir makan orang2 yg makan di warteg bersama saya, seringkali bahkan mereka yg saya traktir makan tdk mengenal saya.. 😊

Entah mengapa dari dulu mental saya selalu inginnya tangan diatas(memberi/berbagi) kepada banyak orang..

Ada perasaan yg tak terkatakan, ketika saya keluar dari warteg, meskipun kadang saya cuma mentraktir 2-3 orang..😊

Jaman saya belum ketemu dg istri saya(masih bujangan)πŸ˜…, ketika saya pulang dari kontrakan istri saya ditangerang, saya melewati sebuah perempatan lampu merah dimana banyak tukang becak pada nongkrong/tiduran menunggu penumpang..

Lalu terbesit ide dalam benak saya,

Hhmm.. kalau saya belikan kaos kaki buat mereka agar telapak kaki mereka ga kedinginan ditengah malam ketika mereka tiduran menunggu penumpang betapa bahagianyaπŸ˜…?

Lalu ga menunggu waktu lama, ide saya langsung saya eksekusi, saya beli kaos kaki yg tebal, waktu itu harganya 10 ribu dapat 3 pasang, dan saya beli 15 pasang..πŸ˜…

Malamnya sengaja saya keperempatan tersebut utk berbagi kaos kaki, beberapa dari mereka ada tatapan agak aneh, mungkin dalam benak mereka, terpikir,

"Anak muda ini baru dapat undian kayaknya?.." hahaha..πŸ˜‚

Lalu diam² saya melihat mereka dari kejauhan, saat menyaksikan mereka tiduran sambil mengenakan kaos kaki pemberian saya, seketika dada saya berdesir..ada sebuah "rasa" yg tak bisa diceritakan😊 ..

Waktu itu juga tiba² ada suara dlm benak saya,

"Kenapa ga engkau belikan sarung saja sekalian? biar tidur mereka lebih nyaman?"

Dan alhamdulillah, entah bagaimana saya selalu dapat kerjaan tambahan/lemburan, sehingga ga butuh waktu lama, saya bisa membeli 15 sarung utk mereka..

Seperti ketika saya menyaksikan mereka mengenakan kaos kaki pemberian saya, melihat mereka tiduran sambil mengenakan kaos kaki dan sarung pembelian saya, "rasa" yg tak bisa terungkapkan dg kata itu muncul lagi mengguyuri tubuh saya..πŸ˜‚

πŸ˜‚ Dan akhirnya kebiasaan memberi/berbagi seperti menjadi sebuah karakter yag melekat dalam diri saya..

Alhamdulillah, saya dipertemukan dg seorang gadis yg "satu frekwensi" dg saya, kalau tdk pasti sering berantem sebab kebiasaan saya ini..πŸ˜‚

Seperti ketika kami masih ngontrak dipetakan(baru menikah sekitar 4 bulan) di daerah balaraja tangerang..

Waktu itu saya pulang ke kontrakan dg kegembiraan yg meluap, sebab oleh seseorang yg saya benerin pompa sanyonya yg rusak, saya dibayar 100 ribu dari yg semestinya saya terima 50 ribu..

Sampai dirumah langsung saya katakan kepada istri saya,

"Dik tadi aku di bayar 100 ribu dari betulin pompa air, padahal semestinya bayaran aku kan 50 ribu? Yuk kita keluar kontrakan, kita cari orang yg bisa kita kasih uang kejutan?"

Dan istri saya langsung menyetujui ide saya, padahal waktu itu kami berdua juga masih banyak kekurangan uang, sebab pingin punya televisi sendiri saja seperti mimpi rasanya(waktu itu istri kalau nonton tv numpang nonton ditetangga sebelah kontrakan)..

Bisa jadi, bagi wanita lain, uang 50 ribu tahun 1994 besar sekali nilainya, dan mungkin saja jika saya menjadi suaminya akan kena semprot begini,πŸ˜‚πŸ˜‚

"Mas itu gimana sih, dapat rejeki lebih bukannya ditabung, bukannya dikasih ke istri, kok malah mau dikasih ke orang lain?"

"Memangnya kita sudah kelebihan duit apa? buat kebutuhan sendiri aja masih kekurangan kok sok bagi-bagi duit?"

"Daripada di kasih orang mending ditabung, kalau sudah banyak tabungannya kan nanti bisa buat beli tv, biar kita bisa nonton tv di kontrakan sendiri.."

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi alhamdulillah, istri saya dari awal menikah selalu nurut, taat, patuh, dan percaya kepada saya 100% tanpa syarat..jadi ga pernah berantem soal-soal yang beginian..πŸ˜‚πŸ‘

Termasuk ketika satu bulan sebelum menikah ia saya suruh keluar kerja, esok harinya ia langsung keluar kerja tanpa banyak tanya apalagi protes, padahal ia sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan jepang, dg posisi yg lumayan dg gaji yg berkali-kali lipat jauh lebih besar dari upah saya sebagai kuli proyek..😊

Istri saya sangat percaya kepada saya, ketika saya berjanji akan membuat hidupnya bahagia bersama saya, istri saya juga ga pernah protes dg kebiasaan saya yg ga umum ini(ga punya banyak duit tapi seneng banget bagi-bagi duit).. πŸ˜†

Lalu, sampai di pinggir jalan raya, kami cari tukang becak yg masih pd nongkrong dipinggir jalan(waktu itu seingat saya sekitar pukul 11 malam)..

Kami samperin seorang yg sudah kelihatan tua, dari penampakannya usianya sekitar 60 tahunan, sebab rambutnya sudah putih semua..

Bapak tua tersebut minta 5 ribu utk mengantarkan kami pp dari kampung pasir jaha ke pasar balaraja utk membeli buah jeruk, dan langsung kami naik keatas becak tanpa menawar..

Sampai di pasir jaha, bapak tua tersebut langsung saya sodori uang 50 ribu, 

"Mas bisa kasih uang pas saja, saya ga ada kembalian.." kata bapak tua tersebut.

"Ga usah pak, kembaliannya untuk bapak saja, alhamdulillah hari ini saya dapat rejeki besar.." jawab saya sambil meyakinkan bapak tua tersebut yang terlihat terkejut..

Dan bapak tua tersebut langsung mengucap takbir, sambil mendo'akan kami, dan saya langsung mengajak istri untuk meng-amin-kan do'a bapak tua tersebut tepat di hadapannya..😊


Hhmm..

Pulang dari memberikan hadiah kejutan malam itu, kami berdua balik ke kontrakan jalan kaki ditengah malam dengan perasaan bahagia yg luar biasa nikmat sambil bergandengan tangan..😊

Pernah juga ada sebuah momen, dimana tetangga kontrakan 2 orang cewek yang kebetulan kena PHK, kami tawarkan tidur dlm kontrakan kami sambil menunggu mendapatkan pekerjaan kembali, sebab waktu itu mereka berdua mau balik kampung..

Dan akhirnya kontrakan petakan tersebut menjadi semakin sesak sebab ruang depan dijadikan tempat tidur bagi mereka..alhamdulillah dlm waktu yg tdk terlalu lama sekitar 2 bulan kemudian mereka mendapatkan panggilan kerja dari perusahaan..😊

 2 orang cewek ini bahkan jodohnya pun kami berdua yg menjodohkan(entah sudah berapa banyak yang sudah kami jodohkan).πŸ˜‚

YA, menjadi Mak Comblang adalah salah satu profesi awal kami berdua..hahaha..πŸ˜‚πŸ˜‚

Waktu mereka masih satu kontrakan dg kami, saya katakan kepada mereka berdua,

"Do'ain ya, agar saya bisa membangun rumah sendiri yang besar, nanti kamu berdua bisa ikut tinggal bersama kami, ga perlu ngontrak lagi.."

Dan entah gimana ceritanya dalam waktu singkat saya mampu membeli sebidang tanah 200 meter, dan saya bangun semua tanah tersebut dalam jangka waktu 1 tahun, dengan konsep ruang tamu, 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, dapur bersama, dan ruang tengah yg besar untuk menampung tidur banyak orang..😊

Akhirnya tepat di ultah saya yang ke 27 tahun, saya bisa memiliki rumah sendiri, berarti saya dan istri pindah² kontrakan selama 4 tahun(saya menikah umur 23 tahun dg penghasilan saya sebagai kuli proyek dengan upah harian sebesar 3.750 perak)..

Masih banyak sebenarnya yg ingin saya ceritakan, tapi karena buka puasa hari ini istri saya ga masak, jadi saya harus selesaikan status ini untuk hunting makanan buat persiapan buka puasa..πŸ˜‚

Intinya, jangan takut miskin dan kekurangan uang, sebab perasaan tersebut akan direspon oleh semesta sebagai permintaan(dianggap oleh Tuhan sebagai do'a)..

So, tdk penting apakah anda percaya atau tidak dengan apa yang saya ceritakan, sebab yang terpenting dari cerita saya adalah,


"Miliki mental kaya, jika anda ingin kaya, sering-seringlah memberi/berbagi kepada orang lain, jika anda sungguh-sungguh ingin Tuhan melimpahkan rejeki yang tiada henti dalam hidup anda.."

Rumus matematika soal bagaimana rejeki mengalir tiada henti dari pengalaman hidup saya sederhana,

Saya tambahkan berlipat-lipat rasa syukur, lalu saya kalikan dengan rasa bahagia, dan saya bagikan semangat hidup, cinta, dan kegembiraan saya kesebanyak-banyaknya orang yang hadir dalam hidup saya..

To Be Continue... (Part 3)

Let's Transform!


πŸ™

HGS

Artikel 01

 •┈┈••┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈••┈┈•

πŸ”₯ MENGAPA BANYAK KULI SEUMUR HIDUP MENJADI KULI? (Part 1)πŸ”₯

By : Hermawan GS


Tanya :

Divideo profil, bapak dulunya adalah kuli bangunan, dan teman2nya msh kuli bangunan. 

Sedang bapak sekarang adalah seseorang yg sukses luar biasa. Ijin bertanya, utk menjadi sesorang yg luar biasa sukses, ini bisa dilakukan semua orang walaupun tdk punya apa2 atau saat itu bapak memang punya support orang2 luar biasa untuk menggapainya? 

Sebagai contoh support harta benda untuk biaya kuliah dsb??


Jawab :

Dikelas training atau seminar banyak orang yg mengira, bahwa saya tdk ada potongan orang miskinπŸ˜…, menganggap apa yg saya sampaikan adalah bualan & omong kosong dg tujuan utk mendongkrak popularitas saya...πŸ˜…πŸ™

Padahal apa yg saya sampaikan adalah sebuah fakta, dan bukan hasil imajinasi atau rekayasa...

Adalah fakta jika saya dulunya juga sempat rebutan makanan dari sisa² makanan di tempat sampahπŸ˜…, saat gitar saya yg biasa saya gunakan utk ngemen hilang dicuri orangπŸ˜…, padahal gitar tersebut setiap malam saya gunakan sebagai bantal...πŸ˜…πŸ™

Dalam kondisi seperti itu, ditambah lagi kondisi tubuh saya yg lagi ngedrop, maka saya terpaksa mengisi perut dg mengais makanan dari tong sampah tempat para penumpang KA Eksekutif membuang sisa makanan...😊

Dan masih banyak fakta² pahit dan menyedihkan lainnya yg tdk bisa saya ceritakan dlm tulisan ini..

Dari dulu, sampai dg saat ini saya tdk memiliki orang² yg mensupport saya, sampai saat ini saya juga masih terus mengandalkan diri saya sendiri...😊

Saya tdk pernah menyerahkan pekerjaan utk mewujudkan impian saya kepada siapapun, saya sendiri yg harus berupaya mewujudkannya, itulah mengapa saya memiliki prinsip😊

"Hidupku adalah tanggung jawabku, dan bukan tanggung jawab siapapun!"

Termasuk bagaimana saya harus berjibaku membagi waktu, antara pekerjaan, bisnis, dan menyelesaikan tugas² kuliah, semua tanpa dukungan materi(uang)dari orang lain, semua murni adalah upaya keras diri saya sendiri...(kerja sambil kuliah).

Lalu pertanyaannya,

"Mengapa banyak kuli, seumur hidup kok masih menjadi kuli?"πŸ€”

Menurut pengamatan saya, salah satu penyebabnya banyak kuli(karyawan) yg bekerja semata-mata hanya untuk mendapatkan uang/gaji/jabatan(tangan dibawah), tanpa pernah sedikitpun berpikir untuk mempersiapkan mental bagaimana bisa menggaji karyawan (tangan diatas)..

Bagi saya, mental tangan dibawah itu mental kuli, dan mental memberi/berbagi(tangan diatas) itu mental pebisnis/entrepreneur..

Begini, saya dulu juga pernah merasakan pahit getirnya hidup miskin, boro-boro tabungan, rekening tabungan saja ga punya, kalaupun punya apa yg mau ditabung? πŸ˜†

Dari sejak saya masih berprofesi sebagai pembantu rumah tangga selama 3 tahun, jadi anak jalanan, pedagang asongan, pedagang kaki lima, kuli proyek, salesman, hingga sekarang, banyak hal dan pelajaran hidup yg telah saya lalui..

Sebab, saya melihat sampai dg saat ini masih banyak kuli yg mentalnya kuli..

Jaman masih menjadi kuli(miskin), entah kenapa mental saya sudah mental pengusaha (kaya) 🀩😎

Dari dulu, saat saya masih jadi kuli, saya senang sekali memberi/berbagi, entah saya menawarkan bantuan tenaga/pikiran/ide ataupun bantuan dlm bentuk lainnya(modal uang) hanya utk melihat orang lain bertumbuh kualitas hidupnya..

Itulah kenapa saya merasa bahagia jika ada karyawan saya yg akhirnya berani membuka usaha sendiri/mandiri, dan jika mereka butuh bantuan modal usaha saya tdk segan² utk membantu.

Sebab itulah tujuan saya berbisnis,

Menciptakan wirausahawan baru yg tangguh & mumpuni di bidangnya..

Itulah juga kenapa, jaman saya masih jadi kuli proyek, ataupun jadi karyawan, saya ga pernah tertarik utk ikutan demo ke proyek/perusahaan, meski proyek/perusahaan tempat saya bekerja mengalami gejolak, sebab krisis keuangan..😊

Saat teman² saya dulu demo dg membakar-bakar ban, memecah kaca & jendela kantor/proyek, mengeroyok & memukuli pimpinan, saya justru dipercaya menjadi penengah antara karyawan & perusahaan, atas permintaan manajemen perusahaan..sebab saya dianggap mampu meredam amuk kemarahan karyawan..😊

Dari dulu saya tdk pernah terbesit sedikitpun utk mendemo(memprotes/menggugat) perusahaan tempat saya bekerja atas melemahnya kondisi kehidupan/keuangan saya, seringnya malah saya demonya (protesnya) kepada diri saya sendiri..πŸ˜ŠπŸ‘

Saya "gugat" diri saya sendiri..

Saya "tuntut" diri saya untuk berubah..

Saya minta diri saya utk menaikkan penghasilan, meningkatkan taraf kesejahteraan ekonomi, dan hasilnya benar² tdk pernah mengecewakan..

*Demo saya terhadap diri saya sendiri alhamdulillah akhirnya berhasil saya kabulkan, saya sukses mendemo (memprotes/menggugat) diri saya sendiri.. *

Sebab demo saya mau dikabulkan atau tidak, semua keputusannya ada pada diri saya sendiri.. hehehe..πŸ˜…

Dulu saya pakai otak & tenaga sendiri, utk mencari tambahan penghasilan dg mencoba berbagai macam bisnis, dari jualan mainan anak², jualan baju, sabuk kulit, tas kulit, jaket kulit, sandal jepit, sampai jamu seduh, indomie rebus, bubur kacang ijo, cilok dan bakso..

Dari pengalaman saya membangun bisnis, pasang turunnya bisnis, entah itu sebab dari adanya krisis keuangan nasional, saya tdk pernah menyalahkan orang lain termasuk keadaan ekonomi negara yg sedang terpuruk (sebab saat itu bisnis konveksi saya jatuh bangkrut jaman krisis tahun 1997-1998) 

Saya selalu intropeksi diri..

Apa yang menyebabkan bisnis saya mengalami kemunduran? yang menyebabkan kondisi keuangan saya juga mengalami kemerosotan?

Hhmm..

Dalam kondisi seperti itu, saya baru sadar, betapa pentingnya saya harus tetap punya tabungan dlm jumlah tertentu utk mengantisipasi keadaan yg tdk saya inginkan?

Sebab saat itu, saking semangatnya menjadi wirausahawan(pebisnis), setiap ada sedikit keuntungan semuanya saya gunakan untuk menambah stok barang atau menambah/membuka outlet baru, dan ga pernah terpikir utk menabung (menyimpan uang dalam bentuk tabungan/deposito)..

Dari situlah saya juga belajar pentingnya menjaga awareness (kesadaran)..

Sebab, banyak pebisnis bangkrut/gulung tikar akibat "hilangnya" kesadaran, yg pada akhirnya nafsu ingin mendapatkan uang/keuntungan yg sebanyak-sebanyaknya menjadi dominan..

Bisnisnya dari luar kelihatan besar, tapi nasib karyawannya/kesejahteraannya memprihatinkan, sebab juragannya hanya fokus menggendutkan perutnya sendiri, tapi pelit memberikan upah/tunjangan untuk karyawannya..dan ini menurut saya masuk kategori mental kuli..

Bisnis baru juga berjalan 3 bulan, sudah buru² mau buka lagi cabang yg kedua, bisnis baru juga berjalan 6 bulan, sudah buru² membuka bisnis lainnya yg seolah lebih menggiurkan..

Padahal dalam pengalaman saya, sebelum bisnis/usaha sudah teruji menguntungkan dalam jangka waktu minimal 5 tahun, bisnis tersebut harus tetap ditangani dengan serius, tetap fokus menekuni bidang bisnis tersebut..

Setelah bisnis sudah berjalan 5 tahun, dan saya sudah mengerti/menguasai seluk beluk bisnis tersebut baru saya berpikir untuk membuka bisnis baru..😊

Dan yang paling penting adalah saya harus bermental pebisnis, dan bukan bermental kuli..

Mental pebisnis itu salah satunya jika bertemu dengan orang baru, ia akan "menawarkan" dirinya,

"Apa yang bisa saya bantu untuk anda?"

"Apa yang harus saya lakukan untuk mempermudah urusan anda?"

"Apa yang bisa anda manfaatkan dari keahlian saya?"

"Apa yang semestinya saya lakukan untuk menolong dan meringankan hidup anda?"

Dan setiap saat pikirannya selalu dipenuhi banyak internal dialog, selftalk yg sering muncul adalah,

"Apalagi yang harus aku lakukan, agar banyak kehidupan orang lain menjadi lebih baik?"

"Apa yang harus aku lakukan, agar keberadaan ku memiliki manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan bumi?"

"Nilai, manfaat, dan inspirasi apa yang akan aku wariskan dibumi ini setelah aku mati?"


Kembali ke laptop.. πŸ’»

Saat saya berbisnis, dari awal niat membuka bisnis adalah untuk membantu orang lain mendapatkan kesempatan bekerja (membuka lowongan pekerjaan), dan bukan untuk kepentingan saya pribadi..😊

πŸ˜ͺ Kalau saya bisnis dg niat hanya untuk menambah pundi² kekayaan saya pribadi, maka saya tdk akan rela berbagi keuntungan dg orang lain(lebih baik saya kelola bisnis saya kelola sendiri, berapapun keuntungan yg saya dapat semuanya masuk kantong pribadi)..

Sebab dengan menggaji karyawan bukannya keuntungan saya menjadi berkurang?

Lalu saya berpikir, jika mindset saya seperti ini apa bedanya saya dg menjadi kuli? yg hanya mikirin diri saya sendiri?

Yang bekerja keras mencari nafkah dg memeras otak, keringat, dan tenaga sendiri?

Masak seumur hidup saya harus menjadi kuli?

Lalu sampai kapan bisnis terus saya urusin sendiri?

Kalau diurusin orang lain dan hasilnya bagus, kenapa harus saya urusin sendiri?

Kalau pakai otak, keringat, dan tenaga orang lain saja lebih kereenn hasilnya, ngapain juga harus capek² saya urusin sendiri? 

_Bagi saya, kalau bisnis semuanya masih saya urusin sendiri itu saya bukan bermental pebisnis, tapi saya masih bermental kuli.. _

Memang sekilas terlihat kereeenn..πŸ˜‚

Sepintas saya terlihat seperti wirausahawan (pebisnis/pengusaha), padahal sesungguhnya saya masih wiraswastawan (masih kuli).. 😊

Ngaku-aku entrepreneur, padahal masih kuli..qiqiqi...πŸ˜‚

To Be Continue...(Part 2)

Let's Transform!

Hermawan GS (alm)


πŸ™

HGS

Intermezzo

Setelah ini, saya akan memposting sebuah catatan dari seorang teman. Semoga bermanfaat.

beliau adalah alm. Hermawan GS. Sang inisiator SELF TALK Pengubah Nasib (SPN).

Ya, kita bisa merubah nasib kita dengan cara merubah cara bicara kita pada diri sendiri. Hey, bukankah yang kita sering ajak bicara, lebih dari siapapun adalah diri kita sendiri? Dan hal ini menarik ya.

Belajar apapun, yang penting adalah mindset kita, dan juga niat kita. Maka, orang bijak, orang tua dan orang alim selalu bilang, luruskanlah niat karena Allah semata.

Ya, begitulah.

Selamat membaca. 

Semoga ada yang bisa diambil manfaatnya. :)

Perjalanan Spiritual

Open Wakaf Kloter Pertama

Satu hal saat open wakaf kloter pertama. Saat itu adalah Bulan Ramadhan, tepatnya hari Jum’at terakhir di Bulan Ramadhan 1441 H (yang pada saat itu istimewa karena pada bulan Ramadhan kali ini ada lima hari Jum’at).

Awalnya, iseng saja, saya punya beberapa nomer rekening, ada satu yang memang sudah jarang dipakai dan saldonya sepertinya sudah minus, tapi masih aktif nomor rekeningnya. Saya coba transfer dari norek saya yang aktif ke norek yang jarang dipakai dengan niat untuk untuk sedekah buku dan Al Qur’an. Saya pikir, sebelum saya mengajak orang lain, tentunya saya harus mengajak diri saya sendiri, bukan? Karena saldo saya limit, saya hanya bisa transfer sebesar sepuluh ribu rupiah, ya batas transfer minimal di bank/ antar bank.

Sambil saya ikhtiar mencoba membuat flyer ajakan untuk berdonasi buku dan AL Qur’an. Nah, tak lama kemudian, dari notifikasi sms muncul dan saya mendapat sebuah transferan sebesar satu juta rupiah. Masya Allah… benar-benar merinding saya saat itu. Saya tahu itu bukan transferan jualan, karena saat itu saya sedang tidak bertransaksi jual beli dengan siapapun. Saya tahu itu murni uang milik saya, entah siapa yang kirim (dan akhirnya saya tahu kemudian, hehehe… dan benar-benar itu adalah hak saya).

Yang buat saya merinding adalah, sepuluh ribu rupiah dibalas satu juta rupiah dalam waktu kurang dari satu jam Masya Allah.. Ya, walaupun ketika kita bersedekah itu tak mengharap balasan, apalagi balasan sedekah juga tak hanya berupa uang tunai, tapi bagi saya ini adalah kejadian langka yang luar biasa. Saya keluarkan uang sebesar sepuluh ribu, langsung dibalas 100 kali lipat dengan transferan masuk sebesar 1 juta rupiah. MasyaAllah tabarakallah….

 Kemudian Allah beri kemudahan-kemudahan lain hingga Alhamdulillah program open wakaf kloter pertama yang saya buka ini sukses dan selesai dilaksanakan. Amiin allhumma ‘aamiiin…

 Saat saya sendiri yang menggalang dana, saya akhirnya berada di posisi para penggalang dana alias donasi, mengajak orang lain untuk berdonasi/ menyumbang. Biasanya, saya yang dimintai sumbangan/ donasi, kali ini, saya yang meminta donasi/ sumbangan.

Ya, ada sedikit rasa khawatir, malu, cemas, takut.. wajar lah karena baru pertama kalinya, heheh. Tapi rasa itu tak berlangsung lama, saya tepis dan menebalkan muka. Bismillah… say akan mengajak kepada kebaikan.

Tapi, saya pun tahu, ketika kita mengajak kepada kebaikanpun, jika CARA yang kita lakukan salah, atau tak benar, maka hal itu pun bisa menjadi sesuatu yang sia-sia.

Ingat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

“Kebatilan yang terencana dan terorganisir akan dapat mengalahkan kebaikan/kebenaran yang tidak tersusun dengan baik dan rapi."

Jadi, ketika kita melakukan suatu upaya kebaikanpun, seyogyanya dilakukan dengan baik, tidak asal punya niat : yang saya lakukan kan baik, bagaimanapun caranya.

Ya, kita terus-terusan mengajak orang untuk berdonasi, maka akan terlihat seperti sebuah terror, membuat orang bosan, atau antipasti terhadap kita. Berdonasi itu kan sama saja bertransaksi uang, seperti halnya orang jual beli. Hanya saja, kalau transaksi jual beli, penjual dapat uang, pembeli dapat barang. Kalau berdonasi, pengumpul donasi dapat uang/ sumbangan, pendonasi juga dapat sesuatu seperti yang dijanjikan oleh Allah tapi hal itu abstrak, tidak dapat langsung dilihat atau dirasakan saat itu juga. Bahkan mungkin balasannya bertahun-tahun kemudian atau balasan yang didapat tidak langsung diberikan kepada yang bersangkutan, bisa jadi pada keluarganya, anak cucunya. Wallahu ‘alam. Bisa jadi balasannya hal real, seperti saya tadi, mendapat rezeki nomplok yang tidak disangka, dapat sembako, dapat undian berhadiah, atau hal yang abstrak, seperti panjang umur, sehat selalu, dijauhkan dari marabahaya, dan sebagainya.

Selain itu, hal yang tidak dapat diungkapkan ketika saya menjadi penggalang wakaf adalah, saya bisa mendoakan orang lain, dan kemudian beberapa dari mereka yang saya do’akan mendoakan saya dan keluarga saya juga. Dan hal itu adalah sesuatu yang sungguh istimewa dan luar biasa bagi saya. Masya Allah…

Mendo’akan orang lain dan mendapat banyak do’a. Sungguh menakjubkan luar biasa.

Belum lagi nanti do’a dari para penerima donasi, anak-anak yang mendapat buku dan mushaf Wakaf. Belum lagi manfaat yang dirasakan ketika barang yang kita wakafkan membawa manfaat tersendiri bagi yang bersangkutan. Masya Allah… insyaAllah pahalanya akan senantiasa mengalir dalam hidup kita. Ya, itu adalah salah satu manfaat dari wakaf.

Kemudian, hal lain yang saya alami yaitu, saat saya mengajak seseorang berdonasi. Saya memanfaatkan jejaring social WA saja, by broadcast grup dan japri serta status WA.

Terkadang, kalau broadcast ya, saya juga lihat-lihat grupnya. Tidak semua grup saya broadcast. Itu tadi, melakukan kebaikan dengan cara yang benar alias tidak ngasal. Lalu, via japri, artinya ini lebih personal.

Nah, kadang kita, eh saya sebagai manusia juga mikir ya, saya tahulah beberapa kontak di WA dan kondisi mereka juga. Maksud saya, profesi, aktifitas dan pekerjaan mereka. Saya coba japri beberapa teman, alhadmulillah mendapat respon baik.

Ada satu hal yang saya ingat. Saya juga coba japri salh seorang teman saya, saya tahu beliau itu orang yang berjuang dengan kondisi finansial sehari-harinya. Tapi, bismillah deh, saya coba saja. Dan respon beliau sungguh luar biasa, tak perlu waktu lama. Memang, mungkin kalau dilihat dari nominalnya terhitung sedikit, dibanding yang lain, tapi yang membuat saya salut dan malu adalah respon beliau, dan saya malu sempat meragukan beliau. Ya Allah…

Kemudian, dalam Open WAKAF KLOTER KEDUA, saya lebih belajar lagi tentang yang ‘SEDIKIT’ ini hingga akhirnya memunculkan ide untuk membuat KOMUNITAS PECANDU SEDEKAH ini.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit bukan? Itu pepatah lama yang sudah sangat masyhur dan terbukti sampai sekarang.

Saya selalu terharu ketika ada yang ikut berwakaf, kemudian mereka bilang sama saya: Mbak, maaf ya, Cuma bisa donasi sedikit saja… padahal, siapa sih yang bisa menentukan sedikit itu?

Walau sedikit yang penting ikhlas. Begitu, kan?

Ehem.. tapi, lebih baik banyak dan ikhlas, bukan? Hehehe…

Ya, saya selalu terharu kalau ada yang bilang begitu. Di satu sisi, itu menurut saya menimbulkan harapan, bahwa kalau mereka punya harta lebih, mungkin saja mereka juga akan menyumbang lebih. Karena finansial mereka terbatas, ya mereka hanya bisa menyumbang sedikit.

Makanya, memang benar kalau seorang muslim itu harus bisa KAYA ya…

Hmm…

Bagi saya, jujur saya, meskipun ada ketentuan nominal wakaf sebagai ciri khas wakaf SYGMA (mulai dari 20.000 dan kelipatannya), pada kenyataanya, saya sendiri kan tak akan menolak ketika missal ada yang mau ikut berdonasi hanya sepuluh ribu. Lima ribu bahkan dua ribu. Akan saya terima dengan senang hati, saya catat, dan saya do’akan dengan do’a yang sama dengan mereka yang menyumbang banyak sekalipun.

Nah, dari sinilah saya tercetus sebuah ide tadi.

Kalau saya punya uang seratus ribu, mending saya donasikan ke satu tempat atau ke banyak tempat meskipun hanya sedikit yang saya sumbang?

Missal tempat A: 10 ribu, tempat B: 20 ribu, tempat C: 25 ribu, dan tempat D: 45 ribu

Saya akan membaginya seperti itu, dan saya ambil donasi terbanyak pada hari Jum’at.

Itulah rumus yang saya pakai.

Kan suka-suka saya tho mau nyumbang berapapun?

Limit transfer antar bank sementara ini adalah sepuluh ribu rupiah, dan itu adalah batas minimal donasi saya.

Betewe, ada juga sekarang aplikasi pengumpul donasi online yang memudahkan, bisa berdonasi mulai dari seribu rupiah saja, tentu saja pakai apliaksi juga, missal GoPay, Ovo, Dana, Link AJa, kita sudah bisa berdonasi missal ke PKPU, LAziz, IZI, Dompet Duafa, KITA BISA, dan lain-lain.

Nah, saya ingat kata Bang Ipho Santosa, kata beliau, sekali-kali dalam hidup kita, lakukan sumbangan donasi sebesar yang kalian pun terkejut sendiri. Missal: sumbangan dari rumah, motor, jam, handphone, peralatan rumah lainnya. Lakukan sumbangan yang benar-benar besar nominalnya sampai diri kalian sendiri pun terkjeut melakukannya.

Kita suka kan diberi kejutan? Nah, sekali-kali berilah kejutan itu pada orang lain juga.

Trus, kita ini, sebagai manusia, dimanapun berada, siapapun dia, manusia normal pada umumnya pasti ingin hidupnya itu kaya, berlimpah rezeki.

Tapi bagaimana dengan sedekah yang dia lakukan?

Bang Ippho, yang dikenal sebagai salah satu motivator dan pengusaha sukses di Indonesia, orang kaya yang gaya hidupnya tetap Zuhud, pastilah beliau melakukan donasi tiap hari, bahkan mungkin saja sudah autodebet sendiri.

Bayangkan saja, kita aja yang orang biasa kadang masih mendapat todongan untuk berdonasi kan, dari yayasan ini, itu, anu. Apalagi yang orang-orang kaya dan terkenal macam Bang Ipppho dan kawan-kawannya? Pasti, mungkin hampir dapat dipastikan tiap hari ada pesan yang masuk meminta donasi. Begitu bukan?

Semakin tinggi pohon, pastilah semakin banyak angin bertiup.

Ya, begitulah kurang lebih pengalaman spiritual saya yang daya dapatkan saat Open Wakaf Buku dan Mushaf dua kloter ini, pada Bulan Ramadhan dan Bulan Dzulhijjah ini. MasyaAllah.. pengalaman yang bikin saya merinding, open mind dan open hati juga.

Maka dari itu, saya menginisiasi gerakan atau sebuah Komunitas Pecandu Sedekah, harapannya, saya sendiri sebagai inisiator dari gerakan ini bisa menjadi orang yang gemar bersedekah setiap harinya.

Ya, saya sudah melakukannya, setiap hari dan saya rasakan pokoknya ajaib dan bahagia. Tapi memang, adakalanya niat, semangat, seperti iman juga kadang naik dan turun. Saya tahu itu. Tapi, yang terpenting, semangat, dan gagasan saya akan gerakan Pecandu Sedekah ini (Sedekah rutin tiap hari), insyaAllah selalu saya jaga dalam hati dan pikiran saya.

Bismillah.. semoga Allah mampukan kedepannya. Amiiin…

Jazakumulllahu khoiran katsir teman-teman yang sudah mau bergabung disini J

 

Perenungan

 Catatatan: masih copas postingan di WAG Komunitas Pecandu Sedekah


Teman2 semua, maaf baru bisa lanjut lagi 😁

Sebelumnya saya mengucapkan lagi, jazakumullah khoiran katsir atas kesediaan teman2 nyemplung bareng disini dan belajar bersama saya dr awal.

Sungguh, menurut saya ini suatu rezeki tersendiri. Dan juga, saya selalu percaya bahwa tidak ada yg kebetulan di dunia ini. Qadarullah.. semua terjadi atas kehendak Allah..

Jadi, liat status temen yg manfaat apalagi pas bagi2 link join grup gratis, link kajian you tube, itu termasuk rezeki kan?

Pilihan ada di tangan kita semua.

Tinggal kitanya mau ambil atau tdk. Mau join atau tidak.

Kalau saya pasti simpen dulu link2nya. Copas link dr status kan masih bisa ya. Atau saya coba masuk dulu. Krna open link, maka asumsinya siapa saja bisa masuk, dan boleh keluar kalau nggak sreg, asal tetap menjaga adab dan sopan santun.

Tdk setiap hari kita mantengin status temen2 semua di WA kan? Kadang ada juga yg loadingnya nggak oke, hehe.. dan status itu setiap hari ganti bukan?

Bisa jadi hari ini posting, besoknya nggak. Begitu kan?

Jadi, saya kadang bersyukur banget kalau liat status temen itu nemu yg manfaat, seperti nasihat, link kajian, info grup apa yg sekiranya emang manfaat ya saya join 😍 atau kadang info seminar. Pokoknya di skrinsut dululah ya.

MasyaAllah kecanggihan teknologi jaman now yg tak pernah kita bayangkan sebelumnya ya di tahun-tahun yg lalu.

Dan diri kita sendiri, juga usahakan posting hal2 yg manfaat setiap saat. 😊

Kecuali ada bbrp status yg saya usahakan rutin buka tiap harinya, semisal dr guru2 ngaji saya, krn insyaAllah isi statusnya selalu manfaat dan sayang banget kalau dilewatkan. 😊😊

Nah, peradaban telah bergeser. Jaman now, WA menjadi semacam personal branding, alat identitas. maksudnya hampir setiap org punya WA.

Dan fungsi WA sendiri, kita tau, mengalami grafiknya sendiri.

Dr yg mulanya pengganti sms dg fitur bisa kirim foto, text message yg panjang tak terbatas (kayaknya bisa muat satu artikel ilmiah πŸ˜†), lalu update bisa kirim dokumen, video, suara.. masyaAllah....

Nah, jaman now ini, fungsi WA juga bergeser lagi, jadi sarana untuk promosi alias jualan ya. Apa aja. Bahkan akhirnya pihak WA sendiri menyediakan aplikasi WA bisnis dg fitur2 yg telah disesuaikan dan membantu untuk mereka yg memang fokus jualan/bisnis via WA.

Nah, saya mau share pengalaman saya pribadi ya. Jadi, dulu saya awal2 mulai jualan di instagram, pasang katalog upload barang di ig. Fungsi wa waktu itu kan hanya sbg penunjang chat saja. Krna di IG sdh ada fitur chat tapi memang tidak seGREGET chat by WA πŸ˜ƒ (dg centang birunya 🀭)

Jualan pas dulu juga masih suka2 sih, kalau pas lagi suka ya ngiklan, kalau nggak ya sdh. Saya jualan barang yg saya suka, dan saya pake juga (buku dan mainan anak)

Jadi bisa dibilang belum serius jualan lah..

Saya sendiri sdh lama puasa Facebook alias jaraaaang sekali buka fb. Krn melenakan waktu menurut saya, hehe.

Saya pribadi cukupkan pakai WA dan IG saja.

Semakin kesini, ya mulai mencoba belajar lagi, serius jualan. Apalagi trend mulai bergeser lagi (semakin banyak org yg jualan juga)

Saya pikir, sekalian beli, sekalian dijual lagi. Jadi reseller gtu. Dan mnurut saya, jaman now itu eman2 banget kalau nggak ikut jualan. Dg kemudahan teknologi yg ada. Belajarlah jualan. Nyunah Nabi. Pilihlah barang jualan yg kita sukai. Mau fashion (baju, gamis, khimar dll), kosmetik (parfum, make up series dll) daan lain2 ya.. pokoknya dicoba aja dulu ya gaes..

Daripada penasaran, lebih baik mencoba tapi gagal drpda tdk pernah mencoba sama sekali. Krna orang akan lebih menyesal saat dia tdk pernah mencoba, dibanding org yg berusaha mencoba walau hasilnya gagal total. (Karena bisa belajar dr kegagalan bukan?)

Nah, sama seperti saya memutuskan untuk open program wakaf mandiri (sbgaimana yg mungikin teman2 tau dr status saya).

Jadi, saya sendiri tergabung di komunitas Sygma (sebuah penerbit buku khusus tema Siroh Nabi, Sahabat, Rasul).

Di Sygma, jika kita tergabung jadi member boleh melakukan penjualan pribadi (sales) dan ada juga program tebar wakaf (yg dilakukan mandiri oleh member, dlm artian member tsb mencari tempat wakaf sendiri dan mengumpulkan dana wakaf mandiri, bisa dilakukan perorangan (satu member), bisa juga kerjasama (oleh beberapa member)

Wakaf kali ini adalah kloter kedua yg saya lakukan (yg pertama pas Bulan Ramadhan kmrin, alhamdulillah modal nekat berdasar pengalaman pribadi yg membuat saya merinding) insyaAllah kapan2 saya ceritakan yaa.. 😊

Mohon maaf mungkin agak panjang, hehe...

Semoga g bosen bacanya πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

Ada proses pembelajaran yg saya dapat disini.

 

Saya open wakaf dan jualan pribadi, pada dasarnya action yg saya lakukan sama. Yaitu promosi alias mengajak org untuk mengikuti ajakan kita.

Tapi tujuannya dan manfaatnya beda. Kalau wakaf, tentu saja itu untuk sosial, manfaat sosial dan agama, cakupannya luas plus amanah yg berat, dan berkelanjutan.

Kalau jualan biasa ya, sekedar antar pembeli dan penjual saja, manfaat mungkin terbatas hanya pada pembeli saja. Amanah jika sdh tertunaikan ya sudah. Intinya sudah selesai.

Nah, dulu saat saya blm jadi penjual aktif..

Kadang saya terima chat wapri yg kadang ngajak kenalan, minta save nomor, atau ada juga chat wapri yg tanpa permisi langsung nawarin produk jualan, entah saya suka atau ndak πŸ˜†

Ada yg pernah ngalamin disini πŸ™‹πŸ» 😁

Kalau jaman dulu mah saya abaikan saja alias jarang saya bales/tanggepin.

Dan mindset saya pas waktu itu, alah paling2 ujung-ujungnya mau jualan, nawarin produk

Apalagi nih yg tanpa permisi nyelonong aja blm kenal sama sekali  tiba2 chat nawarin produk, atau nawarin jadi reseller... waduh.. menurut saya itu nggak sopan banget ya buk ibuk 🀦🏻 kurang beradab dan beretika.

Masih lebih mending yg ngajak kenalan dulu ya, masih manis dan sopan.

Tapi kadang ada juga sih ngajak kenalan tapi agak maksa, whehehe..

Mbak, save nomor ya mbak.. save nomornya loh yaaaa 😬 hihihii

 

Ada lagi yg tanpa babibu tetiba kita dimasukin grup jualan sama nomor yg tidak dikenal pula. Waah ini yg jelas bikin bete banget kan ya?

Hehe.. istighfar saja sambil tetap do'akan yg baik2 ya. Mungkin si empunya blm tau. Semoga ke depan bisa lebih beradab dan beretika.

Nah, tentu dr sini kita, eh saya juga belajar ya.

Dg sarana WA yg sdh menjadi bermacam tujuan (untuk jualan, rapat daring, diskusi ilmiah onlen, reuni onlen alumni ini, itu), kita belajar untuk memanfaatkan WA dg bijak. Apalagi jika kita termasuk penjual onlen.

 Jangan lakukan pada orang lain, yg diri kita nggak suka menerimanya

Misal, kalau saya: ujug-ujug (tiba-tiba) dapat chat promosi / tawaran dagangan dll dr nomor/org yg tdk dikenal. Dimasukin grup unindentified (grup nggak jelas isinya, apalagi grup jualan dr nomor asing)

Nah, saya nggak sreg banget itu, makanya jangan lakukan hal itu pada org lain πŸ™πŸ»πŸ˜ŠπŸ˜Š

Masih lebih mending yg ngajak kenalan dulu ya, masih manis dan sopan.

Tapi kadang ada juga sih ngajak kenalan tapi agak mak…

Nah, yg kedua nih, selain dpt chat promo jualan, ada juga kan yg kadang dapat chat tawaran berdonasi? Ada yg pernah ngalamin juga disini πŸ™‹πŸ»️πŸ™‹πŸ» hehehe..

 Biasanya kalau tawaran donasi ini lebih sopan.

Mulai dr perkenalan diri, komunitas/yayasan, lalu tujuan/maksud dan terakhir ajakan donasi.

Sama. Dulu juga sering saya abaikan alias nggak saya tanggapin.

Ya cuma di read doang, hehehe...

Kadang ada juga yg tetap rutin kirim ajakan donasi, biasanya kalau yg paling rame itu hari Kamis/Jum'at ya..

Tapi, saya berusaha untuk tidak memiliki mindset apa2 dg tawaran donasi ini, tapi kadang, namanya manusia, kalau hayati lagi lelah, misal dpat chat dr nomer yg sama, kadang sempet juga mbatin, hmm.. paling-paling mau ngajak donasi lagi πŸ™ˆ dan eee.. ternya… ernyata bukan. Bukan ajakan donasi tapi kiriman quotes motivasi. Duuh kan jadi malu sendiri kan yaaa.... 😬

Kadang saya tanggepin dg langsung ikut transfer, kadang tanpa konfirmasi, kadang juga konfirm ke nomor yg lain atau nomor yg bersangkutan.

 

Nah, kemudian saat saya sdh jadi penjual aktif, belajar di sono sini, ikut seminar, baik via grup, zoom, dengerin kajian di you tube, tentu saja mindset saya lebih terbuka lagi ya.

Jika kita jualan, promosi, tentu saja itu artinya kita harus siap terbuka atau membuka diri untuk org lain. Terutama untuk produk yg kita jual (ada kan kadang yg jualan ujung2nya curhat 🀭)

Kita juga harus siap kan, nomer kita go publik, siapa aja punya akses nomor kita, g cuma satu daerah, satu negara tapi Antar negara. MasyaAllah 😍

Tentu saja ada masa2 dimana rasa cemas.. khawatir, duuh nomerku go publik, khawatir disalahgunakan dan lain sebagainya.

Tapi, kita tepiskan pikiran2 negatif dg yg positif karena "pikiran kita akan menjadi rasa kita, menjadi nasib kita," intinya hati2lah dg pikiran kita.

 

Jika kita ingin hal2 baik yg selalu terjadi dalam hidup kita, maka senantiasalah berfikir yg baik-baik.

Seperti tadi mindset saya kalau ada yg ngajak kenalan, minta donasi, pikiran saya, hanya terbatas pada alah, paling2 mau nawarin jualan, nawarin donasi lagi, mau rekrut reseller

Padahal jika saya mungkin tdk berfikir sesempit itu mungkin akan banyak sekali hal yg bisa saya dapatkan dari kenalan baru saya ini 😊

 

Bisa jadi ia adalah perantara saya menuju ke kebaikan-kebaikan lainnya (who knows), misal yg blm dapat jodoh, perantara dpt jodoh, yg blm punya rumah, perantara dapat rumah dg harga bagus, dan lain-lain.

Maka, mulai sekarangpun saya belajar untuk mencoba terus berfikir yg positif-positif atas apa yg terjadi di sekitar saya.

Always positive thinking.

Make it as Habbit 😊

 

Nah, perjalanan spiritual saya benar2 dimulai saat saya memutuskan lagi untuk open wakaf kloter kedua ini teman-teman semua...

Pengalaman Pribadi

Catt: Masih saya copaskan apa yang sudah pernah saya tulis di WAG Komunitas Pecandu Sedekah


Assalamu'alaykum teman2 semua disini, mohon maaf baru menyapa lagi.

MasyaAllah di hari yg berbahagia ini bagi Umat Muslim, hari Raya yg jatuh pada hari Jum'at, masyaAllah tentunya pahala yg didapat di hari ini bisa jadi berlipat-lipat ya.

Mari kita manfaatkan momen emas ini sebaik-baiknya untuk melakukan amal2 terbaik yg kita bisa.

Semoga Allah mudahkan dan mampukan. Aamiin..amiin yaa rabbal'alamiyna

Sekali lagi saya sbg inisiator admin grup Komunitas Pecinta Sedekah ini mengucapkan jazakumullah khoir atas kesediaan teman2 bergabung disini. Kita belajar bareng2 ya. Dari awal.

Mohon maaf kalau mungkin tdk runtut, ikuti saja dulu ya.

Karena boleh dibilang saya bikin grup ini modal nekat dan niat. Mumpung masih semangat.

Ikhtiar ingin menjadi hamba yg bisa menjadi pecandu sedekah.

Seperti yg saya posting di status, kalau tmn2 ngikutin status saya, nyemplung di grup ini ya perwujudan satu step langkah kita kalau kita pengen jadi hamba Allah yg rajin, gemar, sedekah, terutama dsini sedekah yg pake harta ya. Fokusnya dstu. Jihad maal. Jihad harta atau tepatnya disebut juga dg infaq.

Kalau istilah sedekah itu cakupannya luas, bisa dg tenaga, jasa, bahkan bermuka sumringah di depan saudara/tetangga itungannya adalah sedekah.

Kalau infaq fokusnya lebih ke maal/harta

Kalau wakaf, perwujudannya dalam sebuah benda yg tdk habis pakai, beragam bentuknya tergantung bendanya apa (bangunan, tanah, buku, dll)

Kurang lbh itu gambarannya antara sedekah, infaq dan wakaf. Kalau zakat insyaAllah sdh pada familiar ya. πŸ€—

Saya sharing disini berdasarkan pengalaman pribadi saya ya, jadi bahasanya ya mungkin agak santai juga. Semoga bisa dipahami teman2 semua.

Kadang nanti saya mengutip atau sharing artikel dr tempat lain yg saya kira bermanfaat. Seperti artikel, link2 you tube, dll.

Nah, yg pertama ingin saya sampaikan disini, ketika saya sndri belajar sesuatu yg baru, maka yg pertama saya lakukan adalah fokus di mindset (pola pikir) dan niat saya.

Saya selalu (berkali-kali) bertanya pada diri sendiri ketika melakukan sesuatu.

1. Niatanmu apa melakukan ini? Apa ada Allah di dalam niatmu itu?

2. Mindset apa yg ada dalam pikiranmu terkait hal (yg kamu lakukan) ini?

Karena, niatan seseorang dan mindset seseorang itu bisa jadi berubah bahkan dalam hitungan detik, maka kita harus senantiasa jaga niat dan mindset kita, salah satu caranya adalah dg ikhtiar terus belajar, mau terbuka (membuka diri dg hal2 baru), dan berusaha senantiasa mendekat kepadaNya serta berkumpul dg komunitas/ org2 yg sevisi misi

Awal Mula

Jadi, Komunitas Pecandu Sedekah adalah sebuah ide yang saya mulai dari WAG, namun karena WAG terbatas informasinya, alias yang masuk kemudian tak bisa mendapatkan informasi yang telah lalu (beda dengan telegram), maka saya pindah informasi yang telah disampaikan ke blog saja, biar lebih tertata juga nantinya.

Berikut saya copaskan apa yang sudah saya pernah tulis di WAG Komunitas Pecandu Sedekah.

 

Assalamu'alaykum teman2ku semua.

Jazakumullah khoir sudah bersedia join di grup ini.

Kita belajar bersama ya πŸ˜‡πŸ€—

Semoga bermanfaat dan barokah. Aamiin..

Saya tetap akan sharing di status juga, sambil nunggu teman yg blm join, tapi berapapun yg sdh join dsni, mari segera mulai.

 

Krna kunci apapun yg kita ingin lakukan, kita impikan adalah action alias mulai bergerak.

Tapi tentu saja action dg ilmu ya agar lebih berbobot

Obatilah Penyakit Dengan Sedekah

 

Dikutip dari laman pondok islami dot com, Ibnul Mubarak seorang tabi’in yang ahli fikih & hadits ditanya oleh seseorang tentang penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun.  “Wahai Abu Abdirrahman, penyakit borok yang ada di lututku sudah berusia tujuh tahun, sudah banyak tabib yang aku tanyai dan berobat kepada mereka, akan tetapi hingga hari ini penyakitku ini tidak kunjung sembuh” tanya orang tersebut dengan penuh pengharapan.

 

Ibnul Mubarak pun menjawab pertanyaan tersebut, “Pergilah engkau ke suatu tempat dimana banyak orang membutuhkan air,” Jawab Ibnul Mubarrak. “Buatlah sumur di sana. Aku berbarap akan muncul mata air dan penyakit borokmu tidak akan lagi mengeluarkan darah dan nanah.”

 

Orang itu pun segera mengikuti saran dari Ibnul Mubarrak. Ia segera mencari daerah yang penduduknya sedang mengalami kesulitan air. Kemudian ia pun segera membuatkan sumur untuk kebutuhan air mereka, dan atas izin Allah SWT, penyakit yang selama ini mendekam dalam tubuhnya hilang dan sembuh seperti sedia kala.

 

Rasulullah SAW bersabda

” Obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah” 

(HR. Baihaqi dan Tabrani )

 

Bersedekah mampu mengobati berbagai macam penyakit. Mari kita mencoba untuk bermuhasabah. Apabila diri kita atau orang yang kita kenal dan sayangi sedang tertimpa ujian berupa sakit yang tidak kunjung sembuh, maka bisa jadi ada perbuatan kita yang sudah mengundang murka Allah SWT. Barangkali kita selama ini lebih sering tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan.

 

Maka segeralah bertobat, kembali ke jalan Allah SWT, perbanyaklah sedekah, insya Allah murka Tuhan akan padam dan anda sembuh dari penyakit.

 

Semoga Yang Ikut Menyebarluaskan Tulisan Ini, Allah Jadikan dia dan keluarganya Muslim Yang Sukses Mulia Dunia Akhirat

 

  

Wallahu a'lam bish-shawab.

 

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Lanjut nanti. Selamat berbuka bgi yg menunaikan ibadah shaum. Barokallah. 😊

29 -07 – 2020

Abundance Race Day 29

 πŸ― Materi Abundance Race 29🏯 🧘🏻‍♂️ RELATIVITAS WAKTU , KETENANGAN JIWA dan REZEKI 🧘🏻‍♀️ Pernah tidak mengalami, saat kita sedang dalam...