•┈┈••┈┈•••○○❁πΏ❁○○•••┈┈••┈┈•
SAAT MENGELUARKAN UANG NIATKAN UNTUK "MENYALURKAN REJEKI", ATAU MEMBERI SUMBANGAN"
•┈┈••┈┈•••○○❁πΏ❁○○•••┈┈••┈┈•
By : Hermawan GS
Tanya:
Bp Hermawan selamat pagi, saya mau tanya bagaimana menghilang kan perasaan khawatir waktu bp memberi /mentraktir orang lainπ ?
Apakah dg self talk mis: "Dengan memberi, Tuhan akan mengganti dg nilai lebih besar...."
Jawab:
Waktu dulu saya melakukan kebiasaan utk memberi & berbagi, dg cara mentraktir orang lain, saya sendiri juga ga pernah berpikir atau berharap bahwa pemberian saya akan mendapatkan balasan dari Tuhan, dg nilai lebih byk atau rejeki yg berlimpah ruah...
Yang saya rasakan, saya memberi karena saya merasa senang & happy ketika saya bisa membuat orang lain tersenyum happy, itu saja..π
Dan tidak ada motif atau modus lain..π
Ok saya akan bahas hal ini lebih mendalam....
Kebiasaan ini terus saya lakukan sampai dg saat ini, ya memang karakter senang membantuπ, meringankan, memudahkan, dan menolong orang lain bagi saya adalah hal yg sangat menyenangkan...π
Sering anak saya menanyakan kebiasaan saya membeli sesuatu yag kadang saya sendiri tdk membutuhkan...
Contohnya,
Saya memborong membeli buah pisang seharga 100 ribu yg dijual seorang nenek² yg duduk di pelataran depan ruko, padahal nantinya buah pisang tersebut saya makan hanya 1-2 biji, & sisanya saya bagikan ke tetangga rumah...
Atau ketika saya memborong sekeranjang jualan seorang kakek² yg menawarkan dagangan otak² kepada saya ketika saya sedang menikmati makan siang bersama istri, awalnya saya merasa kasihan melihat banyak pengunjung restoran yg menolak dagangannya...
Tapi rasa kasihan itu berganti rasa ingin membantu, menolong, meringankan beban hidup, & membahagiakan orang lain... seketika rasa ingin berbagi rejeki lebih dominan menyelimuti hati saya.
Saya merasa kehadiran kakek penjual otak² di depan saya bukanlah sebuah kebetulan, saya yakin Allah sedang mengingatkan saya, agar saya menyalurkan rejeki yg Allah amanahkan kepada saya utk disalurkan lagi kepada kakek ini..π
Maka saya panggil kakek² itu, tanpa saya tawar sama sekali, saya borong semua dagangannya...π
Setelah saya bayar semua isi keranjang dagangannya, saya minta kpd kakek penjual tersebut membagi-bagikan otak² nya kpd semua pengunjung restoran yg sedang menikmati makan siang..π
Anehnya, giliran dikasih gratis, para pengunjung restoran mau menerima otak² pemberian kakek ini, bahkan ada beberapa pengunjung yg mintanya bukan cuma 1 plastik(1 bungkus plastik isinya 10 otak-otak), tapi minta 2 bungkus plastik..ππ
Hehehe..apa karena dikasih Gratis ya? ππ
Atau sering saya membeli minuman Air Mineral botol yg ditawarkan di perempatan lampu merah, saya beli 50 ribu(20 botol), saya ambil 2 botol, & sisanya 18 botol saya minta kpd penjualnya agar dibagikan ke mobil/pengendara sepeda motor yg ada disekitar mobil saya..π
Dan banyak lagi contoh² yg lainnya..
Bagi saya, setiap saya membeli sesuatu, apakah sesuatu tersebut memang benar² saya butuhkan, atau tdk saya butuhkan, saya selalu Niatkan utk menyalurkan rejeki yg sudah saya terima kepada orang lain..
π Termasuk apakah saya beli buku, ikut seminar, ikut training, beli baju, beli sepatu, makan di restoran, makan di warung kaki lima, dlsb.. selalu saya niatkan bukan utk mendapatkan sesuatu, tapi saya niatkan utk berbagi sesuatu(berbagi rejeki)...
Dengan niat menyalurkan rejeki yg saya terima kepada sesama..dan vibrasi yg saya rasakan berbeda rasanya, ada suatu rasa yg sensasi happynya tak bisa diungkapkan dg kata²...
Hanya pribadi yg hobby berbagi yg bisa merasakan "sensasinya".π
❤️ Sejak saya menyadari perbedaan vibrasi(rasa) yg muncul ketika saya membeli dg niat utk "menyalurkan" sebagian rejeki, secara perlahan tapi pasti, pintu² rejeki seolah terbuka lebar...
Apapun usaha yg saya jalankan, semua mudah & dimudahkan Tuhan, seolah apapun yg saya sentuh selalu menghasilkan uang, apapun yg saya kerjakan membawa banyak keberuntungan..
Tdk ada lagi rasa berat utk mengeluarkan uang, tdk ada lagi rasa sayang utk membelanjakan uang...
Sebab, setiap saya membeli barang²/sesuatu yg saya butuhkan, saya bukan hanya perasaan senang yg saya rasakan ketika mendapatkan apa yg saya inginkan,
Tapi yg paling mendominasi adalah perasaan bahagia bisa menjadi saluran rejeki orang lain, perasaan berlimpah rejeki, & rasa syukur, sebab Tuhan masih memberikan kesempatan kepada saya utk menjadi penolong, menjadi berkat, & menjadi penerang jalan² gelap hidup byk orang..
Dulu sebelum saya memiliki kesadaran ini, saya sering berhitung-hitung dahulu sebelum membelanjakan uang, ada perasaan berat utk mengeluarkan uang..
Maka jika tidak benar² membutuhkan, saya tdk akan mengeluarkan uang utk membeli sesuatu...
Dulu saya juga memiliki keyakinan yg sama dg sebagian besar orang, dg prinsip,
π "Hemat itu pangkal kaya.." π
Padahal ternyata tidaklah demikian, karena segala hal yg dilakukan seseorang itu tergantung niatnya, dan rasa yg hadir saat mengerjakannya..
Saat seseorang berniat hidup hemat, membatasi anggaran belanja, biasanya rasa yg muncul adalah takut uangnya berkurang, takut tdk memiliki cadangan uang, takut miskin, dslb.
Maka itulah yg dipancarkan ke semesta..dan semesta akan menangkap/merekam itu sebagai permintaan...
π Dan jangan salahkan, jika kehidupan seseorang justru semakin sulit hidupnya, semakin terlilit banyak hutang, semakin miskin, dan semakin memprihatinkan..
Orang² seperti ini hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
Ia bersusah payah mengumpulkan harta agar menjadi orang yang kaya raya, tetapi dia bakhil tdk ingin mengeluarkan hartanya, dg tujuan agar dirinya terhindar dari kefakiran...
Namun kenyataannya, ia justru terjerumus pd kondisi yg ingin dihindarinya yaitu kefakiran...
Kehidupannya dihimpit kemiskinan. Ia hidup benar-benar miskin di dunia, namun di akhirat dia akan dihisab dengan hisabnya orang kaya....
Sungguh benar perkataan seorang ulama,
“Orang (kaya) yang pelit itu gaya hidupnya gaya hidup orang miskin, tetapi hisabnya hisab orang kaya..”
"Ingatlah, kalian adalah orang-orang yang diminta untuk menafkahkan sebagian harta kalian di jalan Allah, namun di antara kalian terdapat orang-orang yang bakhil. Siapa pun yang bersikap bakhil (kikir), maka sesungguhnya ia bakhil (kikir) terhadap dirinya sendiri, sebab Allah Maha Kaya dan kalian adalah orang-orang miskin..'' (QS.Muhammad: 38).
"Barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)
Tapi jika seseorang mengeluarkan/membelanjakan uang dengan niat untuk melayani kehidupan dengan membantu, menolong, memudahkan, meringankan hidup orang lain..
Dengan niat tulus memberi, berbagi, menyalurkan sebagian rejeki yang diterima nya kepada sesama, secara otomatis rasa yang muncul dalam dirinya akan berbeda...
Rasa yang muncul biasanya adalah rasa kaya raya, rasa kebercukupan, rasa berlimpah banyak uang, rasa senang, gembira, bahagia, dan rasa syukur yang luar biasa..
π Sebab dirinya masih mampu menjalankan salah satu perannya sebagai kholifah bumi, sebagai penjaga kehidupan bumi, memastikan roda kehidupan terus berjalan sesuai kehendakNya...
Itulah kenapa ia senang bisa menjadi jalan rejeki, menjadi sumber keberuntungan, dan kesejahteraan bagi sesama...
Perasaan senang melihat orang lain senang, bahagia melihat orang lain bahagia, merasa beruntung bisa membuat orang lain merasa beruntung..ini adalah perasaan yang senantiasa mendominasi hidupnya...
Dan otomatis, niat dan rasa yang muncul ini akan di tangkap/direkam oleh semesta sebagai permintaan(Do'a tanpa hijab)...
Sehingga sangatlah wajar jika kehidupan seseorang seolah seperti diliputi kemudahan, keberuntungan, keberlimpahan, dan keajaiban hidup yang tiada pernah berhenti menghampirinya..
Jadi membeli bagi saya bukanlah soal mengeluarkan uang, menghabiskan uang, untuk mendapatkan, atau memiliki sesuatu...
Tapi ini soal amanah, apakah amanah rejeki yang diberikan Tuhan kepada saya, sudah saya salurkan kepada sesama?
Itulah kenapa saya selalu bersyukur setiap saya telah membayar sesuatu, dengan mengatakan begini,
"Ya Allah Ya Robb, Alhamdulillah...aku sudah tunaikan kewajibanku, untuk menyalurkan sebagian rejeki pemberianMu kepada sesamaku.."
"Terima kasih Ya Robb, karena sampai dengan saat ini Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa berbagi kegembiraan dan kebahagiaan kepada sesamaku.."
"Terima kasih Ya Robb, atas segala kesehatan, kemudahan, keberuntungan, keberlimpahan hidup yang Engkau berikan kepadaku sampai dengan saat ini.."
"Ya Allah Ya Robb, aku siap untuk menerima limpahan rejeki, dan keajaiban-keajaiban hidup dariMu, dan aku siap untuk menyalurkannya kembali kepada sesamaku..aamiin.."
Sahabat..
Bukankah Allah sudah menjamin,
“Orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.."(QS.Al-Baqarah : 261)
⭐ Pada ayat lain Allah mengatakan,
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265)
"Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.."(QS. Saba' : 39)
"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.."(QS. A-Hadid : 7)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka AllΓ’h melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Itulah kenapa, termasuk dalam hal pengeluaran untuk pembayaran internet rumah, PLN, PDAM, biaya sekolah/kuliah anak, iuran kebersihan dan keamanan perumahan, dan sejenisnya saya niatkan juga untuk berbagi rejeki...
Kalau di workshop saya, selalu saya sampaikan, agar saat mengeluarkan biaya rutin rumah tangga agar ga terasa berat, dan ringan untuk dilakukan, anggap saja anda sedang membayar sumbangan...
Toh sama-sama anda keluarkan/bayar iuran, mengapa tidak anda anggap saja sebagai sumbangan, kan pasti lebih nyaman rasanya, dibandingkan anda merasa bayar iuran?
Niat anda vibrasi anda saat mengeluarkan sumbangan pasti berbeda sensasinya...
Saat anda niatkan untuk nyumbang, dalam diri anda akan muncul perasaan anda memiliki banyak uang, perasaan berlimpah rejeki, perasaan berkecukupan...
Hal ini akan membuat anda merasa enteng dan ringan saat anda membayar tagihan-tagihan, sebab anda tidak merasa sedang membayar tagihan? tapi anda sedang menyumbang...
Itulah kenapa pada akhirnya setiap akhir bulan, saat tagihan datang, anda senang sekali mengeluarkan sumbangan..
Hanya orang-orang yang memiliki mental berkelimpahan yang punya hobby menyumbang..
Jadi sebagai suami setiap bulan, anda bisa nyaman ngobrol dengan pasangan begini,
"Mah bulan ini sumbangan untuk karyawan Telkom sudah dibayar atau belum?"
"Sumbangan untuk karyawan PLN, sumbangan untuk karyawan PDAM, sumbangan untuk Guru-guru sekolah anak-anak sudah ditunaikan belum?"
"Termasuk sumbangan untuk petugas kebersihan, petugas keamanan perumahan?"
Atau,
"Mah buruan keluarin sumbangan rutin kita, soalnya kasihan kalau nanti karyawan PLN, PDAM, Guru, Dosen, Petugas kebersihan, Petugas keamanan perumahan dan keluarganya sedih sebab kita telat ngasih sumbangannya.."
"Kan kasihan mereka jika sumbangan kita telat, padahal sumbangan kita mereka butuhkan untuk memenuhi kehidupan keluarga mereka sehari-hari.."
Atau, setiap awal bulan sebagai istri ngomong begini,
"Alhamdulillah ya Pah, bulan ini kita sudah nyumbang buat Karyawan Telkom, Karyawan PLN, Karyawan PDAM, Pegawai dan Guru-guru Sekolah, Rektor, Dosen Kampus anak kita, pemilik kos-kosan, sebesar 10 juta lebih.."
"Alhamdulillah semuanya tertunaikan...semoga sumbangan yang kita berikan kepada mereka menjadikan hidup mereka sejahtera ya Pah?"
Bisa kan anda bedakan sensasi rasanya?
Saat anda membayar iuran bulanan, dibandingkan saat anda mengeluarkan sumbangan?
Let's Transform!
π
HGS


