Open Wakaf Kloter Pertama
Satu hal saat open wakaf kloter
pertama. Saat itu adalah Bulan Ramadhan, tepatnya hari Jum’at terakhir di Bulan
Ramadhan 1441 H (yang pada saat itu istimewa karena pada bulan Ramadhan kali
ini ada lima hari Jum’at).
Awalnya, iseng saja, saya punya
beberapa nomer rekening, ada satu yang memang sudah jarang dipakai dan saldonya
sepertinya sudah minus, tapi masih aktif nomor rekeningnya. Saya coba transfer
dari norek saya yang aktif ke norek yang jarang dipakai dengan niat untuk untuk
sedekah buku dan Al Qur’an. Saya pikir, sebelum saya mengajak orang lain,
tentunya saya harus mengajak diri saya sendiri, bukan? Karena saldo saya limit,
saya hanya bisa transfer sebesar sepuluh ribu rupiah, ya batas transfer minimal
di bank/ antar bank.
Sambil saya ikhtiar mencoba membuat
flyer ajakan untuk berdonasi buku dan AL Qur’an. Nah, tak lama kemudian, dari
notifikasi sms muncul dan saya mendapat sebuah transferan sebesar satu juta
rupiah. Masya Allah… benar-benar merinding saya saat itu. Saya tahu itu bukan
transferan jualan, karena saat itu saya sedang tidak bertransaksi jual beli
dengan siapapun. Saya tahu itu murni uang milik saya, entah siapa yang kirim
(dan akhirnya saya tahu kemudian, hehehe… dan benar-benar itu adalah hak saya).
Yang buat saya merinding adalah,
sepuluh ribu rupiah dibalas satu juta rupiah dalam waktu kurang dari satu jam
Masya Allah.. Ya, walaupun ketika kita bersedekah itu tak mengharap balasan,
apalagi balasan sedekah juga tak hanya berupa uang tunai, tapi bagi saya ini
adalah kejadian langka yang luar biasa. Saya keluarkan uang sebesar sepuluh
ribu, langsung dibalas 100 kali lipat dengan transferan masuk sebesar 1 juta
rupiah. MasyaAllah tabarakallah….
Ya, ada sedikit rasa khawatir, malu,
cemas, takut.. wajar lah karena baru pertama kalinya, heheh. Tapi rasa itu tak
berlangsung lama, saya tepis dan menebalkan muka. Bismillah… say akan mengajak
kepada kebaikan.
Tapi, saya pun tahu, ketika kita
mengajak kepada kebaikanpun, jika CARA yang kita lakukan salah, atau tak benar,
maka hal itu pun bisa menjadi sesuatu yang sia-sia.
Ingat pesan Sayyidina Ali bin Abi
Thalib:
“Kebatilan yang terencana dan
terorganisir akan dapat mengalahkan kebaikan/kebenaran yang tidak tersusun
dengan baik dan rapi."
Jadi, ketika kita melakukan suatu upaya kebaikanpun, seyogyanya dilakukan
dengan baik, tidak asal punya niat : yang saya lakukan kan baik, bagaimanapun
caranya.
Ya, kita terus-terusan mengajak orang untuk berdonasi, maka akan terlihat seperti sebuah terror, membuat orang bosan, atau antipasti terhadap kita. Berdonasi itu kan sama saja bertransaksi uang, seperti halnya orang jual beli. Hanya saja, kalau transaksi jual beli, penjual dapat uang, pembeli dapat barang. Kalau berdonasi, pengumpul donasi dapat uang/ sumbangan, pendonasi juga dapat sesuatu seperti yang dijanjikan oleh Allah tapi hal itu abstrak, tidak dapat langsung dilihat atau dirasakan saat itu juga. Bahkan mungkin balasannya bertahun-tahun kemudian atau balasan yang didapat tidak langsung diberikan kepada yang bersangkutan, bisa jadi pada keluarganya, anak cucunya. Wallahu ‘alam. Bisa jadi balasannya hal real, seperti saya tadi, mendapat rezeki nomplok yang tidak disangka, dapat sembako, dapat undian berhadiah, atau hal yang abstrak, seperti panjang umur, sehat selalu, dijauhkan dari marabahaya, dan sebagainya.
Selain itu, hal yang tidak dapat diungkapkan ketika saya menjadi penggalang wakaf adalah, saya bisa mendoakan orang lain, dan kemudian beberapa dari mereka yang saya do’akan mendoakan saya dan keluarga saya juga. Dan hal itu adalah sesuatu yang sungguh istimewa dan luar biasa bagi saya. Masya Allah…
Mendo’akan orang lain dan mendapat
banyak do’a. Sungguh menakjubkan luar biasa.
Belum lagi nanti do’a dari para
penerima donasi, anak-anak yang mendapat buku dan mushaf Wakaf. Belum lagi
manfaat yang dirasakan ketika barang yang kita wakafkan membawa manfaat
tersendiri bagi yang bersangkutan. Masya Allah… insyaAllah pahalanya akan
senantiasa mengalir dalam hidup kita. Ya, itu adalah salah satu manfaat dari
wakaf.
Kemudian, hal lain yang saya alami
yaitu, saat saya mengajak seseorang berdonasi. Saya memanfaatkan jejaring social
WA saja, by broadcast grup dan japri serta status WA.
Terkadang, kalau broadcast ya, saya
juga lihat-lihat grupnya. Tidak semua grup saya broadcast. Itu tadi, melakukan
kebaikan dengan cara yang benar alias tidak ngasal. Lalu, via japri, artinya
ini lebih personal.
Nah, kadang kita, eh saya sebagai
manusia juga mikir ya, saya tahulah beberapa kontak di WA dan kondisi mereka
juga. Maksud saya, profesi, aktifitas dan pekerjaan mereka. Saya coba japri
beberapa teman, alhadmulillah mendapat respon baik.
Ada satu hal yang saya ingat. Saya juga
coba japri salh seorang teman saya, saya tahu beliau itu orang yang berjuang
dengan kondisi finansial sehari-harinya. Tapi, bismillah deh, saya coba saja. Dan
respon beliau sungguh luar biasa, tak perlu waktu lama. Memang, mungkin kalau
dilihat dari nominalnya terhitung sedikit, dibanding yang lain, tapi yang
membuat saya salut dan malu adalah respon beliau, dan saya malu sempat
meragukan beliau. Ya Allah…
Kemudian, dalam Open WAKAF KLOTER
KEDUA, saya lebih belajar lagi tentang yang ‘SEDIKIT’ ini hingga akhirnya
memunculkan ide untuk membuat KOMUNITAS PECANDU SEDEKAH ini.
Sedikit-sedikit lama-lama menjadi
bukit bukan? Itu pepatah lama yang sudah sangat masyhur dan terbukti sampai
sekarang.
Saya selalu terharu ketika ada yang
ikut berwakaf, kemudian mereka bilang sama saya: Mbak, maaf ya, Cuma bisa
donasi sedikit saja… padahal, siapa sih yang bisa menentukan sedikit itu?
Walau sedikit yang penting ikhlas.
Begitu, kan?
Ehem.. tapi, lebih baik banyak dan
ikhlas, bukan? Hehehe…
Ya, saya selalu terharu kalau ada
yang bilang begitu. Di satu sisi, itu menurut saya menimbulkan harapan, bahwa
kalau mereka punya harta lebih, mungkin saja mereka juga akan menyumbang lebih.
Karena finansial mereka terbatas, ya mereka hanya bisa menyumbang sedikit.
Makanya, memang benar kalau seorang
muslim itu harus bisa KAYA ya…
Hmm…
Bagi saya, jujur saya, meskipun ada
ketentuan nominal wakaf sebagai ciri khas wakaf SYGMA (mulai dari 20.000 dan
kelipatannya), pada kenyataanya, saya sendiri kan tak akan menolak ketika missal
ada yang mau ikut berdonasi hanya sepuluh ribu. Lima ribu bahkan dua ribu. Akan
saya terima dengan senang hati, saya catat, dan saya do’akan dengan do’a yang
sama dengan mereka yang menyumbang banyak sekalipun.
Nah, dari sinilah saya tercetus
sebuah ide tadi.
Kalau saya punya uang seratus ribu,
mending saya donasikan ke satu tempat atau ke banyak tempat meskipun hanya
sedikit yang saya sumbang?
Missal tempat A: 10 ribu, tempat B:
20 ribu, tempat C: 25 ribu, dan tempat D: 45 ribu
Saya akan membaginya seperti itu, dan
saya ambil donasi terbanyak pada hari Jum’at.
Itulah rumus yang saya pakai.
Kan suka-suka saya tho mau nyumbang
berapapun?
Limit transfer antar bank sementara
ini adalah sepuluh ribu rupiah, dan itu adalah batas minimal donasi saya.
Betewe, ada juga sekarang aplikasi
pengumpul donasi online yang memudahkan, bisa berdonasi mulai dari seribu
rupiah saja, tentu saja pakai apliaksi juga, missal GoPay, Ovo, Dana, Link AJa,
kita sudah bisa berdonasi missal ke PKPU, LAziz, IZI, Dompet Duafa, KITA BISA,
dan lain-lain.
Nah, saya ingat kata Bang Ipho
Santosa, kata beliau, sekali-kali dalam hidup kita, lakukan sumbangan donasi
sebesar yang kalian pun terkejut sendiri. Missal: sumbangan dari rumah, motor,
jam, handphone, peralatan rumah lainnya. Lakukan sumbangan yang benar-benar
besar nominalnya sampai diri kalian sendiri pun terkjeut melakukannya.
Kita suka kan diberi kejutan? Nah,
sekali-kali berilah kejutan itu pada orang lain juga.
Trus, kita ini, sebagai manusia,
dimanapun berada, siapapun dia, manusia normal pada umumnya pasti ingin
hidupnya itu kaya, berlimpah rezeki.
Tapi bagaimana dengan sedekah yang
dia lakukan?
Bang Ippho, yang dikenal sebagai salah
satu motivator dan pengusaha sukses di Indonesia, orang kaya yang gaya hidupnya
tetap Zuhud, pastilah beliau melakukan donasi tiap hari, bahkan mungkin saja
sudah autodebet sendiri.
Bayangkan saja, kita aja yang orang
biasa kadang masih mendapat todongan untuk berdonasi kan, dari yayasan ini,
itu, anu. Apalagi yang orang-orang kaya dan terkenal macam Bang Ipppho dan
kawan-kawannya? Pasti, mungkin hampir dapat dipastikan tiap hari ada pesan yang
masuk meminta donasi. Begitu bukan?
Semakin tinggi pohon, pastilah
semakin banyak angin bertiup.
Ya, begitulah kurang lebih pengalaman spiritual saya yang daya dapatkan saat Open Wakaf Buku dan Mushaf dua kloter ini, pada Bulan Ramadhan dan Bulan Dzulhijjah ini. MasyaAllah.. pengalaman yang bikin saya merinding, open mind dan open hati juga.
Maka dari itu, saya menginisiasi
gerakan atau sebuah Komunitas Pecandu Sedekah, harapannya, saya sendiri sebagai
inisiator dari gerakan ini bisa menjadi orang yang gemar bersedekah setiap
harinya.
Ya, saya sudah melakukannya, setiap
hari dan saya rasakan pokoknya ajaib dan bahagia. Tapi memang, adakalanya niat,
semangat, seperti iman juga kadang naik dan turun. Saya tahu itu. Tapi, yang
terpenting, semangat, dan gagasan saya akan gerakan Pecandu Sedekah ini
(Sedekah rutin tiap hari), insyaAllah selalu saya jaga dalam hati dan pikiran
saya.
Bismillah.. semoga Allah mampukan
kedepannya. Amiiin…
Jazakumulllahu khoiran katsir
teman-teman yang sudah mau bergabung disini J
No comments:
Post a Comment