Monday, December 14, 2020

Perjalanan Spiritual

Open Wakaf Kloter Pertama

Satu hal saat open wakaf kloter pertama. Saat itu adalah Bulan Ramadhan, tepatnya hari Jum’at terakhir di Bulan Ramadhan 1441 H (yang pada saat itu istimewa karena pada bulan Ramadhan kali ini ada lima hari Jum’at).

Awalnya, iseng saja, saya punya beberapa nomer rekening, ada satu yang memang sudah jarang dipakai dan saldonya sepertinya sudah minus, tapi masih aktif nomor rekeningnya. Saya coba transfer dari norek saya yang aktif ke norek yang jarang dipakai dengan niat untuk untuk sedekah buku dan Al Qur’an. Saya pikir, sebelum saya mengajak orang lain, tentunya saya harus mengajak diri saya sendiri, bukan? Karena saldo saya limit, saya hanya bisa transfer sebesar sepuluh ribu rupiah, ya batas transfer minimal di bank/ antar bank.

Sambil saya ikhtiar mencoba membuat flyer ajakan untuk berdonasi buku dan AL Qur’an. Nah, tak lama kemudian, dari notifikasi sms muncul dan saya mendapat sebuah transferan sebesar satu juta rupiah. Masya Allah… benar-benar merinding saya saat itu. Saya tahu itu bukan transferan jualan, karena saat itu saya sedang tidak bertransaksi jual beli dengan siapapun. Saya tahu itu murni uang milik saya, entah siapa yang kirim (dan akhirnya saya tahu kemudian, hehehe… dan benar-benar itu adalah hak saya).

Yang buat saya merinding adalah, sepuluh ribu rupiah dibalas satu juta rupiah dalam waktu kurang dari satu jam Masya Allah.. Ya, walaupun ketika kita bersedekah itu tak mengharap balasan, apalagi balasan sedekah juga tak hanya berupa uang tunai, tapi bagi saya ini adalah kejadian langka yang luar biasa. Saya keluarkan uang sebesar sepuluh ribu, langsung dibalas 100 kali lipat dengan transferan masuk sebesar 1 juta rupiah. MasyaAllah tabarakallah….

 Kemudian Allah beri kemudahan-kemudahan lain hingga Alhamdulillah program open wakaf kloter pertama yang saya buka ini sukses dan selesai dilaksanakan. Amiin allhumma ‘aamiiin…

 Saat saya sendiri yang menggalang dana, saya akhirnya berada di posisi para penggalang dana alias donasi, mengajak orang lain untuk berdonasi/ menyumbang. Biasanya, saya yang dimintai sumbangan/ donasi, kali ini, saya yang meminta donasi/ sumbangan.

Ya, ada sedikit rasa khawatir, malu, cemas, takut.. wajar lah karena baru pertama kalinya, heheh. Tapi rasa itu tak berlangsung lama, saya tepis dan menebalkan muka. Bismillah… say akan mengajak kepada kebaikan.

Tapi, saya pun tahu, ketika kita mengajak kepada kebaikanpun, jika CARA yang kita lakukan salah, atau tak benar, maka hal itu pun bisa menjadi sesuatu yang sia-sia.

Ingat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

“Kebatilan yang terencana dan terorganisir akan dapat mengalahkan kebaikan/kebenaran yang tidak tersusun dengan baik dan rapi."

Jadi, ketika kita melakukan suatu upaya kebaikanpun, seyogyanya dilakukan dengan baik, tidak asal punya niat : yang saya lakukan kan baik, bagaimanapun caranya.

Ya, kita terus-terusan mengajak orang untuk berdonasi, maka akan terlihat seperti sebuah terror, membuat orang bosan, atau antipasti terhadap kita. Berdonasi itu kan sama saja bertransaksi uang, seperti halnya orang jual beli. Hanya saja, kalau transaksi jual beli, penjual dapat uang, pembeli dapat barang. Kalau berdonasi, pengumpul donasi dapat uang/ sumbangan, pendonasi juga dapat sesuatu seperti yang dijanjikan oleh Allah tapi hal itu abstrak, tidak dapat langsung dilihat atau dirasakan saat itu juga. Bahkan mungkin balasannya bertahun-tahun kemudian atau balasan yang didapat tidak langsung diberikan kepada yang bersangkutan, bisa jadi pada keluarganya, anak cucunya. Wallahu ‘alam. Bisa jadi balasannya hal real, seperti saya tadi, mendapat rezeki nomplok yang tidak disangka, dapat sembako, dapat undian berhadiah, atau hal yang abstrak, seperti panjang umur, sehat selalu, dijauhkan dari marabahaya, dan sebagainya.

Selain itu, hal yang tidak dapat diungkapkan ketika saya menjadi penggalang wakaf adalah, saya bisa mendoakan orang lain, dan kemudian beberapa dari mereka yang saya do’akan mendoakan saya dan keluarga saya juga. Dan hal itu adalah sesuatu yang sungguh istimewa dan luar biasa bagi saya. Masya Allah…

Mendo’akan orang lain dan mendapat banyak do’a. Sungguh menakjubkan luar biasa.

Belum lagi nanti do’a dari para penerima donasi, anak-anak yang mendapat buku dan mushaf Wakaf. Belum lagi manfaat yang dirasakan ketika barang yang kita wakafkan membawa manfaat tersendiri bagi yang bersangkutan. Masya Allah… insyaAllah pahalanya akan senantiasa mengalir dalam hidup kita. Ya, itu adalah salah satu manfaat dari wakaf.

Kemudian, hal lain yang saya alami yaitu, saat saya mengajak seseorang berdonasi. Saya memanfaatkan jejaring social WA saja, by broadcast grup dan japri serta status WA.

Terkadang, kalau broadcast ya, saya juga lihat-lihat grupnya. Tidak semua grup saya broadcast. Itu tadi, melakukan kebaikan dengan cara yang benar alias tidak ngasal. Lalu, via japri, artinya ini lebih personal.

Nah, kadang kita, eh saya sebagai manusia juga mikir ya, saya tahulah beberapa kontak di WA dan kondisi mereka juga. Maksud saya, profesi, aktifitas dan pekerjaan mereka. Saya coba japri beberapa teman, alhadmulillah mendapat respon baik.

Ada satu hal yang saya ingat. Saya juga coba japri salh seorang teman saya, saya tahu beliau itu orang yang berjuang dengan kondisi finansial sehari-harinya. Tapi, bismillah deh, saya coba saja. Dan respon beliau sungguh luar biasa, tak perlu waktu lama. Memang, mungkin kalau dilihat dari nominalnya terhitung sedikit, dibanding yang lain, tapi yang membuat saya salut dan malu adalah respon beliau, dan saya malu sempat meragukan beliau. Ya Allah…

Kemudian, dalam Open WAKAF KLOTER KEDUA, saya lebih belajar lagi tentang yang ‘SEDIKIT’ ini hingga akhirnya memunculkan ide untuk membuat KOMUNITAS PECANDU SEDEKAH ini.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit bukan? Itu pepatah lama yang sudah sangat masyhur dan terbukti sampai sekarang.

Saya selalu terharu ketika ada yang ikut berwakaf, kemudian mereka bilang sama saya: Mbak, maaf ya, Cuma bisa donasi sedikit saja… padahal, siapa sih yang bisa menentukan sedikit itu?

Walau sedikit yang penting ikhlas. Begitu, kan?

Ehem.. tapi, lebih baik banyak dan ikhlas, bukan? Hehehe…

Ya, saya selalu terharu kalau ada yang bilang begitu. Di satu sisi, itu menurut saya menimbulkan harapan, bahwa kalau mereka punya harta lebih, mungkin saja mereka juga akan menyumbang lebih. Karena finansial mereka terbatas, ya mereka hanya bisa menyumbang sedikit.

Makanya, memang benar kalau seorang muslim itu harus bisa KAYA ya…

Hmm…

Bagi saya, jujur saya, meskipun ada ketentuan nominal wakaf sebagai ciri khas wakaf SYGMA (mulai dari 20.000 dan kelipatannya), pada kenyataanya, saya sendiri kan tak akan menolak ketika missal ada yang mau ikut berdonasi hanya sepuluh ribu. Lima ribu bahkan dua ribu. Akan saya terima dengan senang hati, saya catat, dan saya do’akan dengan do’a yang sama dengan mereka yang menyumbang banyak sekalipun.

Nah, dari sinilah saya tercetus sebuah ide tadi.

Kalau saya punya uang seratus ribu, mending saya donasikan ke satu tempat atau ke banyak tempat meskipun hanya sedikit yang saya sumbang?

Missal tempat A: 10 ribu, tempat B: 20 ribu, tempat C: 25 ribu, dan tempat D: 45 ribu

Saya akan membaginya seperti itu, dan saya ambil donasi terbanyak pada hari Jum’at.

Itulah rumus yang saya pakai.

Kan suka-suka saya tho mau nyumbang berapapun?

Limit transfer antar bank sementara ini adalah sepuluh ribu rupiah, dan itu adalah batas minimal donasi saya.

Betewe, ada juga sekarang aplikasi pengumpul donasi online yang memudahkan, bisa berdonasi mulai dari seribu rupiah saja, tentu saja pakai apliaksi juga, missal GoPay, Ovo, Dana, Link AJa, kita sudah bisa berdonasi missal ke PKPU, LAziz, IZI, Dompet Duafa, KITA BISA, dan lain-lain.

Nah, saya ingat kata Bang Ipho Santosa, kata beliau, sekali-kali dalam hidup kita, lakukan sumbangan donasi sebesar yang kalian pun terkejut sendiri. Missal: sumbangan dari rumah, motor, jam, handphone, peralatan rumah lainnya. Lakukan sumbangan yang benar-benar besar nominalnya sampai diri kalian sendiri pun terkjeut melakukannya.

Kita suka kan diberi kejutan? Nah, sekali-kali berilah kejutan itu pada orang lain juga.

Trus, kita ini, sebagai manusia, dimanapun berada, siapapun dia, manusia normal pada umumnya pasti ingin hidupnya itu kaya, berlimpah rezeki.

Tapi bagaimana dengan sedekah yang dia lakukan?

Bang Ippho, yang dikenal sebagai salah satu motivator dan pengusaha sukses di Indonesia, orang kaya yang gaya hidupnya tetap Zuhud, pastilah beliau melakukan donasi tiap hari, bahkan mungkin saja sudah autodebet sendiri.

Bayangkan saja, kita aja yang orang biasa kadang masih mendapat todongan untuk berdonasi kan, dari yayasan ini, itu, anu. Apalagi yang orang-orang kaya dan terkenal macam Bang Ipppho dan kawan-kawannya? Pasti, mungkin hampir dapat dipastikan tiap hari ada pesan yang masuk meminta donasi. Begitu bukan?

Semakin tinggi pohon, pastilah semakin banyak angin bertiup.

Ya, begitulah kurang lebih pengalaman spiritual saya yang daya dapatkan saat Open Wakaf Buku dan Mushaf dua kloter ini, pada Bulan Ramadhan dan Bulan Dzulhijjah ini. MasyaAllah.. pengalaman yang bikin saya merinding, open mind dan open hati juga.

Maka dari itu, saya menginisiasi gerakan atau sebuah Komunitas Pecandu Sedekah, harapannya, saya sendiri sebagai inisiator dari gerakan ini bisa menjadi orang yang gemar bersedekah setiap harinya.

Ya, saya sudah melakukannya, setiap hari dan saya rasakan pokoknya ajaib dan bahagia. Tapi memang, adakalanya niat, semangat, seperti iman juga kadang naik dan turun. Saya tahu itu. Tapi, yang terpenting, semangat, dan gagasan saya akan gerakan Pecandu Sedekah ini (Sedekah rutin tiap hari), insyaAllah selalu saya jaga dalam hati dan pikiran saya.

Bismillah.. semoga Allah mampukan kedepannya. Amiiin…

Jazakumulllahu khoiran katsir teman-teman yang sudah mau bergabung disini J

 

No comments:

Post a Comment

Abundance Race Day 29

 πŸ― Materi Abundance Race 29🏯 🧘🏻‍♂️ RELATIVITAS WAKTU , KETENANGAN JIWA dan REZEKI 🧘🏻‍♀️ Pernah tidak mengalami, saat kita sedang dalam...