•┈┈••┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈••┈┈•
🔥 MENGAPA BANYAK KULI SEUMUR HIDUP MENJADI KULI? (Part 1)🔥
By : Hermawan GS
Tanya :
Divideo profil, bapak dulunya adalah kuli bangunan, dan teman2nya msh kuli bangunan.
Sedang bapak sekarang adalah seseorang yg sukses luar biasa. Ijin bertanya, utk menjadi sesorang yg luar biasa sukses, ini bisa dilakukan semua orang walaupun tdk punya apa2 atau saat itu bapak memang punya support orang2 luar biasa untuk menggapainya?
Sebagai contoh support harta benda untuk biaya kuliah dsb??
Jawab :
Dikelas training atau seminar banyak orang yg mengira, bahwa saya tdk ada potongan orang miskin😅, menganggap apa yg saya sampaikan adalah bualan & omong kosong dg tujuan utk mendongkrak popularitas saya...😅🙏
Padahal apa yg saya sampaikan adalah sebuah fakta, dan bukan hasil imajinasi atau rekayasa...
Adalah fakta jika saya dulunya juga sempat rebutan makanan dari sisa² makanan di tempat sampah😅, saat gitar saya yg biasa saya gunakan utk ngemen hilang dicuri orang😅, padahal gitar tersebut setiap malam saya gunakan sebagai bantal...😅🙏
Dalam kondisi seperti itu, ditambah lagi kondisi tubuh saya yg lagi ngedrop, maka saya terpaksa mengisi perut dg mengais makanan dari tong sampah tempat para penumpang KA Eksekutif membuang sisa makanan...😊
Dan masih banyak fakta² pahit dan menyedihkan lainnya yg tdk bisa saya ceritakan dlm tulisan ini..
Dari dulu, sampai dg saat ini saya tdk memiliki orang² yg mensupport saya, sampai saat ini saya juga masih terus mengandalkan diri saya sendiri...😊
Saya tdk pernah menyerahkan pekerjaan utk mewujudkan impian saya kepada siapapun, saya sendiri yg harus berupaya mewujudkannya, itulah mengapa saya memiliki prinsip😊
"Hidupku adalah tanggung jawabku, dan bukan tanggung jawab siapapun!"
Termasuk bagaimana saya harus berjibaku membagi waktu, antara pekerjaan, bisnis, dan menyelesaikan tugas² kuliah, semua tanpa dukungan materi(uang)dari orang lain, semua murni adalah upaya keras diri saya sendiri...(kerja sambil kuliah).
Lalu pertanyaannya,
"Mengapa banyak kuli, seumur hidup kok masih menjadi kuli?"🤔
Menurut pengamatan saya, salah satu penyebabnya banyak kuli(karyawan) yg bekerja semata-mata hanya untuk mendapatkan uang/gaji/jabatan(tangan dibawah), tanpa pernah sedikitpun berpikir untuk mempersiapkan mental bagaimana bisa menggaji karyawan (tangan diatas)..
Bagi saya, mental tangan dibawah itu mental kuli, dan mental memberi/berbagi(tangan diatas) itu mental pebisnis/entrepreneur..
Begini, saya dulu juga pernah merasakan pahit getirnya hidup miskin, boro-boro tabungan, rekening tabungan saja ga punya, kalaupun punya apa yg mau ditabung? 😆
Dari sejak saya masih berprofesi sebagai pembantu rumah tangga selama 3 tahun, jadi anak jalanan, pedagang asongan, pedagang kaki lima, kuli proyek, salesman, hingga sekarang, banyak hal dan pelajaran hidup yg telah saya lalui..
Sebab, saya melihat sampai dg saat ini masih banyak kuli yg mentalnya kuli..
Jaman masih menjadi kuli(miskin), entah kenapa mental saya sudah mental pengusaha (kaya) 🤩😎
Dari dulu, saat saya masih jadi kuli, saya senang sekali memberi/berbagi, entah saya menawarkan bantuan tenaga/pikiran/ide ataupun bantuan dlm bentuk lainnya(modal uang) hanya utk melihat orang lain bertumbuh kualitas hidupnya..
Itulah kenapa saya merasa bahagia jika ada karyawan saya yg akhirnya berani membuka usaha sendiri/mandiri, dan jika mereka butuh bantuan modal usaha saya tdk segan² utk membantu.
Sebab itulah tujuan saya berbisnis,
Menciptakan wirausahawan baru yg tangguh & mumpuni di bidangnya..
Itulah juga kenapa, jaman saya masih jadi kuli proyek, ataupun jadi karyawan, saya ga pernah tertarik utk ikutan demo ke proyek/perusahaan, meski proyek/perusahaan tempat saya bekerja mengalami gejolak, sebab krisis keuangan..😊
Saat teman² saya dulu demo dg membakar-bakar ban, memecah kaca & jendela kantor/proyek, mengeroyok & memukuli pimpinan, saya justru dipercaya menjadi penengah antara karyawan & perusahaan, atas permintaan manajemen perusahaan..sebab saya dianggap mampu meredam amuk kemarahan karyawan..😊
Dari dulu saya tdk pernah terbesit sedikitpun utk mendemo(memprotes/menggugat) perusahaan tempat saya bekerja atas melemahnya kondisi kehidupan/keuangan saya, seringnya malah saya demonya (protesnya) kepada diri saya sendiri..😊👍
Saya "gugat" diri saya sendiri..
Saya "tuntut" diri saya untuk berubah..
Saya minta diri saya utk menaikkan penghasilan, meningkatkan taraf kesejahteraan ekonomi, dan hasilnya benar² tdk pernah mengecewakan..
*Demo saya terhadap diri saya sendiri alhamdulillah akhirnya berhasil saya kabulkan, saya sukses mendemo (memprotes/menggugat) diri saya sendiri.. *
Sebab demo saya mau dikabulkan atau tidak, semua keputusannya ada pada diri saya sendiri.. hehehe..😅
Dulu saya pakai otak & tenaga sendiri, utk mencari tambahan penghasilan dg mencoba berbagai macam bisnis, dari jualan mainan anak², jualan baju, sabuk kulit, tas kulit, jaket kulit, sandal jepit, sampai jamu seduh, indomie rebus, bubur kacang ijo, cilok dan bakso..
Dari pengalaman saya membangun bisnis, pasang turunnya bisnis, entah itu sebab dari adanya krisis keuangan nasional, saya tdk pernah menyalahkan orang lain termasuk keadaan ekonomi negara yg sedang terpuruk (sebab saat itu bisnis konveksi saya jatuh bangkrut jaman krisis tahun 1997-1998)
Saya selalu intropeksi diri..
Apa yang menyebabkan bisnis saya mengalami kemunduran? yang menyebabkan kondisi keuangan saya juga mengalami kemerosotan?
Hhmm..
Dalam kondisi seperti itu, saya baru sadar, betapa pentingnya saya harus tetap punya tabungan dlm jumlah tertentu utk mengantisipasi keadaan yg tdk saya inginkan?
Sebab saat itu, saking semangatnya menjadi wirausahawan(pebisnis), setiap ada sedikit keuntungan semuanya saya gunakan untuk menambah stok barang atau menambah/membuka outlet baru, dan ga pernah terpikir utk menabung (menyimpan uang dalam bentuk tabungan/deposito)..
Dari situlah saya juga belajar pentingnya menjaga awareness (kesadaran)..
Sebab, banyak pebisnis bangkrut/gulung tikar akibat "hilangnya" kesadaran, yg pada akhirnya nafsu ingin mendapatkan uang/keuntungan yg sebanyak-sebanyaknya menjadi dominan..
Bisnisnya dari luar kelihatan besar, tapi nasib karyawannya/kesejahteraannya memprihatinkan, sebab juragannya hanya fokus menggendutkan perutnya sendiri, tapi pelit memberikan upah/tunjangan untuk karyawannya..dan ini menurut saya masuk kategori mental kuli..
Bisnis baru juga berjalan 3 bulan, sudah buru² mau buka lagi cabang yg kedua, bisnis baru juga berjalan 6 bulan, sudah buru² membuka bisnis lainnya yg seolah lebih menggiurkan..
Padahal dalam pengalaman saya, sebelum bisnis/usaha sudah teruji menguntungkan dalam jangka waktu minimal 5 tahun, bisnis tersebut harus tetap ditangani dengan serius, tetap fokus menekuni bidang bisnis tersebut..
Setelah bisnis sudah berjalan 5 tahun, dan saya sudah mengerti/menguasai seluk beluk bisnis tersebut baru saya berpikir untuk membuka bisnis baru..😊
Dan yang paling penting adalah saya harus bermental pebisnis, dan bukan bermental kuli..
Mental pebisnis itu salah satunya jika bertemu dengan orang baru, ia akan "menawarkan" dirinya,
"Apa yang bisa saya bantu untuk anda?"
"Apa yang harus saya lakukan untuk mempermudah urusan anda?"
"Apa yang bisa anda manfaatkan dari keahlian saya?"
"Apa yang semestinya saya lakukan untuk menolong dan meringankan hidup anda?"
Dan setiap saat pikirannya selalu dipenuhi banyak internal dialog, selftalk yg sering muncul adalah,
"Apalagi yang harus aku lakukan, agar banyak kehidupan orang lain menjadi lebih baik?"
"Apa yang harus aku lakukan, agar keberadaan ku memiliki manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan bumi?"
"Nilai, manfaat, dan inspirasi apa yang akan aku wariskan dibumi ini setelah aku mati?"
Kembali ke laptop.. 💻
Saat saya berbisnis, dari awal niat membuka bisnis adalah untuk membantu orang lain mendapatkan kesempatan bekerja (membuka lowongan pekerjaan), dan bukan untuk kepentingan saya pribadi..😊
😪 Kalau saya bisnis dg niat hanya untuk menambah pundi² kekayaan saya pribadi, maka saya tdk akan rela berbagi keuntungan dg orang lain(lebih baik saya kelola bisnis saya kelola sendiri, berapapun keuntungan yg saya dapat semuanya masuk kantong pribadi)..
Sebab dengan menggaji karyawan bukannya keuntungan saya menjadi berkurang?
Lalu saya berpikir, jika mindset saya seperti ini apa bedanya saya dg menjadi kuli? yg hanya mikirin diri saya sendiri?
Yang bekerja keras mencari nafkah dg memeras otak, keringat, dan tenaga sendiri?
Masak seumur hidup saya harus menjadi kuli?
Lalu sampai kapan bisnis terus saya urusin sendiri?
Kalau diurusin orang lain dan hasilnya bagus, kenapa harus saya urusin sendiri?
Kalau pakai otak, keringat, dan tenaga orang lain saja lebih kereenn hasilnya, ngapain juga harus capek² saya urusin sendiri?
_Bagi saya, kalau bisnis semuanya masih saya urusin sendiri itu saya bukan bermental pebisnis, tapi saya masih bermental kuli.. _
Memang sekilas terlihat kereeenn..😂
Sepintas saya terlihat seperti wirausahawan (pebisnis/pengusaha), padahal sesungguhnya saya masih wiraswastawan (masih kuli).. 😊
Ngaku-aku entrepreneur, padahal masih kuli..qiqiqi...😂
To Be Continue...(Part 2)
Let's Transform!
![]() |
| Hermawan GS (alm) |
🙏
HGS

No comments:
Post a Comment