Thursday, May 13, 2021

Abundance Race Day 29

 πŸ― Materi Abundance Race 29🏯


🧘🏻‍♂️ RELATIVITAS WAKTU , KETENANGAN JIWA dan REZEKI 🧘🏻‍♀️


Pernah tidak mengalami, saat kita sedang dalam perjalanan ke suatu tempat yang kita belum pernah ke tempat tersebut, kita merasa lama sekali baru sampaiπŸ˜‚, namun setelah perjalanan pulangnya kita merasa waktu berjalan cepat dan sebentar telah sampai.


Waktu juga akan terasa sangat panjang ketika dalam perjalanan, kita hanya sekedar ngikut tanpa informasi apapun, tidak ada clue sedikitpun tentang tempat yang akan kita tuju.


Sebaliknya meskipun kita belum pernah ke tempat tersebut, jika ada clue,  ada cerita dan ada teman bicara yang membantu kita memberikan gambaran tujuan akhir dan apa yang bisa dilakukan disepanjang perjalanan, maka waktu juga menjadi lebih terasa singkat.


Dari dua situasi tadi jelaslah bahwa bukan jarak yang menentukan terasa lama atau terasa singkat, namun lebih pada “rasa” didalam diri kita. 


Ketidak tahuan membuat waktu terasa lama, sementara informasi dan pengetahuan membuat waktu menjadi singkat.


Ketidak tahuan membuat jiwa kita menjadi cemas, cemas membuat waktu terasa berjalan lambat. Pengetahuan membuat jiwa kita menjadi lebih tenang, tenang membuat waktu berjalan terasa lebih cepat.


Rezeki adalah energy yang menggunakan ruang dan waktu sebagai rambatanya. Dalam diri manusia yang bersifat material, maka rezeki mengunakan rambatan berupa energy yang diakses manusia. Energy yang diakses manusia setiap waktu adalah pikiran yang berimbas pada rasa.


πŸ‘‰πŸΌ Itu sebabnya ketika Rasa seseorang cendrung pada dominasi gelisah, resah, kemrungsung juga berimbas pada masalah aliran rezekinya.


Dulu saya ikut pelatihan sana sini dan terjebak pada teknik-teknik merelease rasa kemrungsung ini. Berhasilkan ? ya berhasil… namun tidak sustainable alias tidak lestari, sering muncul lagi dan lagi, direlease pakai teknik-teknik lagi dan berhasil lagi… lama anteng kemudian muncul lagi he he he saya capek..πŸ˜‚


Hingga akhirnya saya menyadari bahwa release itu penting untuk melepas, namun kesadaran dan pemahaman akan esensi atau mekanisme lah yang membuatnya bisa permanen. 


Ini ibarat orang sholat yang digerakkan oleh karena kewajiban dan orang sholat yang digerakkan oleh kesadaran. Hasilnya tentu beda, lebih nyaman dan hepi, tidak capek secara fisik dan lebih nyaman secara mental, karena “rasa” yang menggerakkanya beda.


Rasa adalah bahasa komunikasi semesta, dan rezeki merupakan bagian dari mekanisme semesta yang menggunakan bahasa yang sama.


Faktanya Allah Tuhan semesta Alam demikian kasih sayang pada kita manusia, setiap kali terputus satu rezeki selalu disiapkan rezeki yang jumlahnya lebih banyak, sebagaimana Renungan factual Ibnul Qoyim ; “Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya dua jalan rezeki yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.


Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka empat jalan rezeki lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.”


Fakta diatas sebenarnya menunjukkan bahwa memang rezeki setiap mahluk itu dijamin, besar sedikitnya tergantung pada seberapa besar kebermanfaatan yang ditebarnya bagi mahluk lainya. Ibarat saluran air yang digunakan untuk mendistribusikan air, semakin banyak air yang mengalir melaluinya tentunya makin besar dan panjang penampang saluranya. 


Perhatikan saja para pengusaha, semakin besar karyawanya biasanya semakin besar pula rezeki yang dititipkan untuknya. Atau bisa juga semakin besar manfaat yang diberikanya pada mahluk lain, biasanya semakin besar pula rezeki yang dititipkan padanya.


Materi selesai semoga manfaat πŸ™πŸ™

〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

Abundance Race Day 28

 πŸ― Materi Abundance Race 28🏯


28


MEMBALIK PROSES HAVE DO BE (3)


Dunia internal mendikte dunia eksternal


Rasa-rasa kita atau state kita atau frekwensi kita itulah yang mendrive proses manifestasi.


Jadi mencoba memanifesatasikan keinginan anda dengan model “have-do-be” merupakan jalan yang terjal.


Bahkan jika jika orang berhasil meraih dengan proses “have-do-be” ini, hal tersebut belum tentu bisa merubah rasa atau state yang diharapkan.


Memiliki sesuatu belum tentu langsung menghasilkan me-rasa-kan sesuatu. Lagian model ini berat bro…..πŸ˜…


Itu sebabnya banyak orang yang menggunakan model “have-do-be” yang mengejar kesuksesan tidak merasakan hal yang signifikan ketika akhirnya mereka berhasil meraih kesuksesan.


Kebanyakan orang sukses di dunia berasal dari orang yang menjalankan passion. Mreka tidak mengikuti pola “have-do-be” karena passion adalah bahan bakar proses manifestasi.


Mereka sudah berada dalam state yang bagus ketika mereka memulai suatu pekerjaan.


πŸ‘‰πŸΌ Mereka membalik prosesnya, mereka mengunakan proses “Be-Do-Have”.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


#FreePalestine #SaveGaza

https://www.instagram.com/p/COtoTEkH6yM/?igshid=1vibockuqh6ra


Abundance Race Day 27

 πŸ― Materi Abundance Race 27🏯


♻️ MEMBALIK PROSES HAVE DO BE (2)♻️


Mengapa demikian?


Karena Semesta bekerja seperti mesin potocopy  merespon frekuensi pribadi anda.

Kondisi mental anda atau state anda atau rasa-rasa dominan anda akan menentukan realitas yang akan anda alami.


Lalu bagaimana caranya agar kita mendapatkan apa yang kita inginkan ?


Solusinya apa ?


Jawabanya adalah anda harus  membalik proses  Have-Do-Be.


Anda memiliki kekuatan untuk langsung  ke “Be - Menjadi” karena anda diciptakan dengan kelebihan luar biasa kreatif yang disebut imajinasi..


Berimajinasilah menjadi apa yang anda inginkan (bahagia, sukses, puas dll), lalu mulailah “Do – Melakukan” sesuatu dari state atau rasa ini


Berprilaku lah seolah anda bahagia.


Ketika anda berprilaku pada posisi “Be - Menjadi” maka sejatinya anda juga sedang menciptakan realitas anda sendiri..


Dengan melakukan ini dari posisi bahagia itu tadi, maka anda akan merubah titik pusat medan penarik pribadi anda. Medan penarik anda akan berubah karena vibrasi dan frekuensi personal anda berubah.


✅Inilah jalan atau cara agar anda mendapatkan apa yang anda inginkan.


Itu sebabnya mengapa dikatakan bahwa “sikap syukur mendatangkan nikmat”.


Jika anda bisa mensyukuri apa yang anda miliki anda merubah state anda, merubah rasa anda.


Dengan kata lain, ketika anda merubah frekuensi pribadi anda, anda juga sedang merubah cara anda berkomunikasi dengan mekanisme semesta, dan mekanisme semesta akan memberikan hal-hal lain yang akan jauh lebih anda sykuri


Ketika anda berada pada state bahagia , mekanisme semesta akan menjemput frekuensi anda dan sebagai hasilnya anda akan mendapatkan hal yang akan lebih anda syukuri lagi, hal yang akan membuat anda lebih bahagia lagi.


Itu sebabnya mengapa menysukuri moment saat ini menjadi sangat powerful. Karena ini merubah state anda.


Jika anda ingin memiliki sesuatu, rasakanlah seolah anda sudah memilikinya saat ini juga, jadi anda langsung meloncat ke proses “Be - Menjadi”.


Anda bisa melakukanya karena anda bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika anda sudah memilikinya.

▪️ Jika anda ingin banyak uang  - bagaimana ya rasanya punya uang 1 trilyune sekarang ?

▪️Jika ingin punya bisnis yang sukses  - bagaimana ya rasanya jika bisnis itu berjalan dan sukses mendatangkan kekayaan dan kemanfaatan ?

▪️Dan sebagai nya….


Oke hari ini saya rasa cukup....πŸ™πŸ»


tobe continued besok malam insyaAllah


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

Abundance Race Day 26

 πŸ― Materi Abundance Race 26🏯


♻️ MEMBALIK PROSES HAVE DO BE ♻️


Prinsipnya manusia itu mencari rasa Nyaman dan menghindari rasa Sakit (Pain Pleasure Principle). Oleh karenanya orang dari seluruh dunia mencari RASA atau STATE

▪️Merasa Bahagia

▪️Merasa Sukses

▪️Merasa Damai – dalam kedamaian

▪️Merasa Harmonis

▪️Merasa Mencintai/dicintai

dsb


Jadi bagaimana cara terbaik mendapatkan rasa-rasa tersebut?


Sayangnya kebanyakan orang justru menempuh jalan sebaliknya dari apa yang mereka inginkan.


Orang percaya jika mereka “Have - Memiliki” sesuatu ( lebih banyak waktu, lebih banyak uang, lebih banyak cinta dll) maka mereka bisa “Do - Melakukan” sesuatu (menulis buku, menjalankan hobi, membeli mobil baru, membeli rumah baru, menjalain hubungan baru) yang akan membuat mereka “Be - Menjadi” (bahagia, damai, lengkap, cinta dll).


Mereka mengikuti proses  Have-Do-Be.


Namun, mekanisme semesta agaknya tidak bekerja seperti itu.


πŸ‘‰πŸΌ Memiliki sesuatu tdak menjamin mendapatkan perasaan atau state tertentu. Keadaan diluar diri tidak menentukan rasa. Ada hal lain yang mempengaruhinya. Keadaan didalam diri andalah yang menentukan rasa anda.


✅ Dengan kata lain, “dunia dalam” menciptakan “dunia luar” anda.


Materi yang bersifat fisika adalah perpanjangan dari dunia non-fisik melalui proses penciptaan menuju perwujudan. 


Sebagaimana proses perwujudan yang melalui tiga langkah :

1️⃣ Karsa (ide-pikiran)

2️⃣ Kata (rancangan)

3️⃣ Karya (aksi)


Semua hal yang sudah pernah dibuat oleh manusia pertama kalinya adalah ide. Itulah sebabnya, pikiran (ide) adalah langkah awal sebuah penciptaan, namun apakah energy atau kekuatan dibelakang ide-pikiran tersebut ?.

Dengan kata lain, apa ide dibelakang ide, apa pikiran dibelakang pikiran ?


Jawabanya terhubung dengan pikiran bawah sadar anda dan bagaimana anda sudah dikondisikan sejak anda lahir oleh lingkungan sekitar tempat tinggal anda.


Jadi anda sudah mendapatkan state itu, perasaan itu yang terhubung dan tinggal di pikiran bawah sadar anda itulah apa yang anda yakini, BELIEF ANDA.


Inilah yang dikenali semesta sebagai frekuensi pribadi anda.


Frekuensi anda menentukan hasil yang anda dapatkan, pengalaman yang anda alami, kenyataan yang anda hadapi.


Kebanyakan orang lengah terhadap hal ini, sehingga mereka menciptakan dari state –rasa tidak bahagia, kecewa dll.


Katakanlah Contoh nya

Bang Mujib dalam keadaan state “saya merasa tidak bahagia”.


State ini adalah energy yang mendrive proses penciptaan. Vibrasinya merefleksikan state atau rasa tidak bahagianya.


Jadi dia akan mencipta hal dari posisi rasa tidak bahagia itu tadi..πŸ˜‚


Setiap langkah yang dilakukanya disponsori oleh frekuensi “rasa tidak bahagia”, dan ini hanya akan menghasilkan hal serupa.


Mengapa demikian?

Lanjutanya besok ya.....πŸ˜‚

〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

Abundance Race Day 25

 πŸ― Materi Abundance Race 25🏯


✋🏻 TEMUKAN WHY ANDA dan REZEKI AKAN MENEMUKAN ANDA🀚🏻


Malam tadi dalam bincang² dengan teman² melalui chanel virtual, saya mendapatkan insight dari guru saya Pak Jamil Azzaini. Beliau menekankan tentang pentingnya “Why” sebagai penggerak kita dalam melakukan suatu hal. 


Faktor Why ini yang berperan sebagai booster agar semangat kita stabil dan all out dalam bekerja.


Ada 3 “Why” yang penting ditemukan, yakni 

πŸ‘‰πŸΌ “Rational Why,

πŸ‘‰πŸΌ Emotional Why, dan

πŸ‘‰πŸΌ Spiritual Why”. 


Misal begini,

Anda melakukan pekerjaan anda itu karena apa ? Jika jawaban anda karena butuh uang, itu adalah jawaban dari “rational why”. Anda perlu uang untuk memenuhi kebutuhan anda. Bila “rational why” ini satu2 nya alasan anda bekerja, maka pekerjaan anda akan terasa amat berat. Etos kerja anda bisa jadi, sangat kental dengan jargon “wani piro” dan miskin prinsip “melakukan yang terbaik”.


Itu sebabnya mengapa anda disarankan untuk bekerja pada bidang yang menjadi kekuatan anda, atau bahasa kerennya sesuai dengan passion anda. Pekerjaan yang sesuai dengan minat anda bisa menjadi bemper mental “wani piro”, karena anda akan selalu melakukan yang terbaik pada bidang yang anda suka, seberat apapun pekerjaan itu terlihat oleh orang lain. 


Ketika anda terikat secara emosi dengan pekerjaan anda maka semuanya akan terasa ringan, inilah yang secara subyektif saya fahami sebagai landasan “Emotional Why”.


Lapis ketiga dan tertinggi yang bisa menjadi booster kita adalah “Spiritual Why”. Nilai spiritual apa yang anda tempelkan pada pekerjaan anda, sehingga membuat anda terus semangat melakukanya, terus berusaha memberikan yang terbaik yang anda bisa.


Saya pribadi menempelkan “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56). Dalam laku subyektif saya, saya melakukan yang terbaik dalam pekerjaan saya bukan hanya karena saya mencintai apa yang saya kerjakan, namun juga bahwa pekerjaan yang saya lakukan itu adalah bentuk ibadah social saya pada Tuhan. Saya biasa menyebutnya dengan istilah kontribusi.


Tentu setiap orang punya “reason” masing-masing untuk menjawab “why” ini. Anda bisa temukan dan tempelkan alasan anda sendiri. 


Misal Pak Jamil menggunakan hadis ini sebagai landasan “Spiritual Why” beliau; “Sesungguhnya Allah, para malaikat Nya, penduduk langit dan bumi sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia “ (HR. At-tirmidzi).


Oke… itu dari sisi why sebagai booster anda saat bekerja. Saya akan meninjau dari sisi kerezekian. 


Ketika anda hanya punya “Rational Why”, maka anda akan cenderung terjebak pada hukum sebab akibat semata. Anda akan tergiring pada pemikiran bahwa pekerjaan anda adalah sumber rezeki anda. Ujung-ujungnya secara tidak sadar anda akan “menuhankan” pekerjaan anda.


Saya sering cerita bahwa saya pernah menghambat datangnya jalur rezeki, dengan beranggapan bahwa rezeki saya datang karena asbab pekerjaan saya. Bener, dikasihlah saya pekerjaan banyak… namun apa lacur….πŸ˜‚ Karena satu dan lain hal diluar kesalahan saya…. Saya tidak mendapat uang sama sekali selama setahun bekerja karena anggota team dan kondisi lainya gagal memenuhi kewajibanya, akibatnya tentu saja ga dibayar…. Apes..πŸ˜‚


Segera setelah saya menyadari kesalahan mindset saya, rezeki kembali mengalir dalam hidup saya. 


Bekerja adalah bagian kontribusi saya dalam  mekanisme semesta, bukan satu2nya jalan untuk mendatangkan duit dalam hidup saya. Kalau Tuhan sudah berkehendak, tentu banyak jalan memberi saya duit dengan jalan apapun. 


Sayangnya ya itu tadi, saya telah salah memaknai pekerjaan sebagai jalan satu2nya agar saya dapat duit. Akibatnya tanpa saya sadari saya telah menutup keran datangnya duit bagi saya sendiri he he he...πŸ˜‚


Jadi bekerja itu bukan masalah duit. Bahwa anda bekerja kemudian dapat duit, itu karena mekanisme semesta bekerja sempurna pada anda. Anda mengeluarkan energy berkontribusi bagi berjalanya mekanisme semesta, dan mekanisme semesta membalas dengan memberi anda energy pula dalam bentuk duit.


So…., ketika seseorang berfokus pada memberi kontribusi, menggeser makna pekerjaannya dari sekedar mencari duit ke kontribusi bagi berjalanya mekanisme semesta, maka ia sedang berada pada jalur karaker Ar Razaq nya Tuhan semesta alam. 


Tuhan memberi, memenuhi kebutuhan mahluknya tanpa meminta balasan. Orang yang sudah menggeser makna, memberi yang terbaik pada bidangnya, ga itung-itungan kalau bicara masalah kualitas, takut kalau hasil kerjanya tidak baik, karena yang dipikirkanya bukan duit, namun kontribusi dirinya, Ibadah dirinya pada Tuhan nya.


Oke... saya rasa cukup... semoga manfaat πŸ™πŸ™


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

You tube sources:


https://youtu.be/dCJ2cq5cMyg


Bismillah... semoga termotivasi

https://youtu.be/X6gzI1FQrBg

Abundance Race Day 24

🏯 Materi Abundance Race 24🏯


UTILISASI HUKUM GEMA DAN HUKUM GAUNG DALAM KEREZEKIAN


Dalam hukum fisika ada istilah hukum gema. Gema adalah suara pantulan yang terdengar setelah sumber suara selesai diucapkan. 


Terjadinya gema disebabkan karena jarak penghalang gelombang yang jauh dengan sumber suara. Kondisi ini membuat seseorang yang berteriak di ruangan yang luas seperti gunung atau perbukitan, maka suaranya akan lebih terdengar lebih jelas. Gema akan muncul setelah sumber suara atau suara yang diteriakkan selesai dilakukan. Suara yang terdengar akan lebih jelas dan terulang dua kali. 


Contohnya, ketika kita mengucapkan kata 'aku' maka nanti setelah selesai diucapkan, gema yang muncul akan berbunyi " aku aku" .


Mekanisme semesta lain yang dicatat seba…

[7:30 AM, 5/6/2021] Bang Fahmi: Beberapa hari terakhir, sepertinya ada dorongan yang meminta saya untuk menuliskan ini. 


Entahlah, saya ngikut alur saja. Begini …, ada orang-orang yang saya kenal bermental miskin dan menjadi lintah energy dengan menceritakan kesusahanya pada sesama mahluk.


Karena saya pernah berada diposisi ini, saya mengerti tujuannya bercerita adalah agar mendapatkan belas kasih dan bantuan..πŸ˜‚


Faktanya mahluk itu bukan tempat bergantung, paling kalaupun membantu, bantuan itu hanya sebatas rasa kasihan yang jumlahnya tentu saja sedikit. Seringkali sih hanya ucapan kasihan yang diucapkan di belakang kita ha haπŸ˜‚


Repotnya, memberi tahu orang model begini ini susah bin banget. Kita ingin menolongnya dengan ilmu agar mindset nya berubah, namun semua ilmu sepertinya ga masuk ke telinganya, yang membuatnya senang hanyalah duit walau dalam jumlah sedikitπŸ˜…. Wal hasil mereka dengan ciri-ciri ini ;

πŸ‘‰πŸΌ Selalu mengeluhkan kondisi keuangannya pada siapa saja yang bisa jadi tempat keluh kesahnya


πŸ‘‰πŸΌ Selalu berusaha memanfaatkan orang lain untuk membiayai keperluanya


πŸ‘‰πŸΌ Irit bin medit


πŸ‘‰πŸΌ Berfokus pada kepentingan dirinya sendiri dan sangat sedikit berkontribusi bagi orang lain


πŸ‘‰πŸΌ Kerjanya sangat keras namun seolah selalu kurang jika bercerita pada orang lain


πŸ‘‰πŸΌ Cendrung memikirkan rezeki orang lain agar menjadi rezekinya

- Dll

[7:34 AM, 5/6/2021] Bang Fahmi: Akan selalu berada dalam suasana kemrungsung dan seolah never happy dalam hidupnya. Ujung2 nya ya itulah yang mereka dapatkan. Harta ga pernah cukup bahagia enggan singgah. Apes. Bodo kog diopeni..πŸ˜‚


Lalu apa hubunganya dengan hukum gema dan hukum gaung tadi ?


Hukum gema idealnya dimanfaatkan untuk menggemakan apa yang kita butuhkan ke mekanisme alam semesta yang sangat luas ini. 


Caranya dengan berbisik pada Si Pemilik Hukum Gema, bukan sebaliknya malah cerita ke orang lain yang ga punya kemampuan menggemakan kebutuhan andaπŸ˜‚.


Jadi kalau sedang ga punya uang usahakan jangan sampai orang lain tahu, namun pastikan Tuhan tahu. Berbisiklah pada Tuhan yang Maha Mampu agar anda diberi kemampuan. Bisikan anda pada Tuhan suaranya jauh lebih keras dari yang anda duga dan gemanya akan datang berkali kali.


Anda mengakui ketidak mampuan anda, dan meminta-Nya untuk memampukan anda, maka Tuhan memerintahkan mekanisme semesta untuk memampukan anda. Energy anda tidak bocor kemana-mana, permintaan anda jelas agar dimampukan.


Tidak ada mikrokosmos (orang) lain yang tahu anda sedang tidak berduit, yang mereka tahu anda selalu berduit. Sangka mikrokosmos2 disekitar anda ini juga membantu hukum gema bekerja bersinergy dengan perintah-Nya pada semesta untuk memampukan anda.


Sebaliknya kalau anda menumpahkan keluh kesah anda pada mahluk, pada orang lain, yang anda lakukan adalah menggunakan hukum gaung. Suara anda lantang bercerita kesedihan, ketidak mampuan anda, namun yang datang pada anda adalah suara yang terdistorsi, cibiran, sekedar belas kasihan, karena rentang ruang anda terbatas dan tidak luas.


Apa yang didengar dan dipersepsi oleh orang lain (mikrokosmos) adalah ketidak mampuan anda, apesnya persepsi para mikrokosmos ini bekerja bukan dengan hukum gaung, mereka justru bekerja dengan hukum gema. Jangkauanya luas, keras dan jelas didengar oleh mekanisme semesta. Dan itulah yang datang pada anda.


Itu sebabnya ada informasi ini “Mintalah pada-KU niscaya akan KU perkenankan bagimu”. 


Pernahkah anda mendengar perintah “Mintalah pada mahluk….”. Ga pernah kan…?. Itu karena hukum gema bekerja saat anda meminta pada-Nya..πŸ€—


Kalau di alam jarak dan ruang yang terlihat secara visual bisa diukur besar dan jauhnya. Maka di dunia quantum jarak dan ruang yang memantulkan suara adalah manusia-manusia lain atau mikrokosmos-mikrokosmos lain. Semakin anda teriak tidak punya uang pada semakin banyak manusia lain maka gemanya semakin besar dan kuat kembali pada anda.😱


Sebaliknya ketika anda berusaha menjaga agar tidak ada orang lain tahu anda sedang dalam kesulitan uang dan mengadukan hanya pada Tuhan, maka anda menutup gema negative anda pada mahluk dan permintaan anda di gemakan oleh Tuhan pada alam semesta agar memampukan anda. Entah bagaimana caranya Tuhan menggerakkan orang lain untuk membantu anda. Ini yang sering disebut dengan rezeki yang tak terduga.

[7:36 AM, 5/6/2021] Bang Fahmi: Saya kenal beberapa orang yang hobi mengeluhkan keadaan ekonominya dari usia muda hingga saat ini, dan anehnya mereka selalu dalam keadaaan kekurangan, seolah hidupnya ga pernah lepas dari yang namanya kesulitan uang. Kalaupun punya uang ga lama bablas itu uang. See…,


Itu karena mereka yang menseting uang untuk ga krasan tinggal sama mereka. Uang diumpetin diimit-imit malah hilang. Iya karena fungsi uang adalah “alat tukar” ya harus ditukarkan agar berputar. Kalau uang ditukarkan maka uang berputar, uang akan suka dan datang pada kita, karena mereka tahu kita faham fungsinya ha ha ha.πŸ˜‚


Anyway…., mindset ini works bagi saya, saya tidak tahu bagi anda. Kalau hitung2an apa yang kami dapat seringkali jauh dari apa yang sudah kami keluarkan, namun faktanya ya selalu dicukupkan olehnya. Kami ya selalu terlihat hepi, selalu dianggap banyak money dan itu kami amini. 


Karena anggapan orang lain (mikrokosmos lain) adalah doa yang menggema luas jelas dan keras ke alam semesta, dan itulah yang terjadi pada kami.


Jadi berbahagialah kalau anda dianggap selalu ber-duit oleh orang lain dan bersedihlah kalau dianggap tidak ber-duit.


Berbahagialah kalau bisa memberi orang lain dan jangan bangga kalau bisa moroti orang lain. Karena Hukum Gema  selalu menanti dan akan kembali pada anda.


Oke deh , dah panjang banget…, semoga manfaat πŸ™πŸ™

〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

more sources: Energi Semsesta

 https://youtu.be/U-Z2_tR5mlc

Wednesday, May 5, 2021

Abundance Race Day 23

 πŸ― Materi Abundance Race 23🏯


πŸ¦‹ MERUBAH NASIB πŸ¦‹


Emang nasib bisa dirubah ?


Saya tidak tahu kalau menurut anda. Kalau menurut saya sih bisa. Karena nasib adalah himpunan besar segala kemungkinan yang sudah ditetapkan olehNya. Opsi mewujudkan kemungkinan semakin mudah dicapai oleh mahluk dengan jumlah sel otak terbanyak di bumi yakni manusia.


Misal begini. Timnas Vietnam secara mengejutkan menjadi raja di ASEAN beberapa tahun terakhir bahkan levelnya di tingkat ASIA mulai diperhitungkan. Perubahan nasib sepak bola Vietnam di mulai saat federasi memilih Park Hang Seo sebagai pelatih. Pelatih ini jeli melihat kekurangan dan kelebihan timnas Vietnam. Membuat bencmarking, menetapkan target dan menyusun rencana kerja untuk mencapai target.


PSSI cepat belajar dari kasus Vietnam, mereka mendatangkan pelatih dari Korea Selatan juga namanya Shin Tae Yong. Ga main2, Tae Yong adalah pelatih kelas dunia. Teknik kepelatihan dan metodenya sudah pernah teruji waktu mengalahkan Jerman di Piala Dunia.


Segera setelah Tae Yong datang, ia memotret kondisi timnas Indonesia. Kelemahan segera diketahui, kelebihan menjadi catatan. Roadmap segera dibuat dan metode serta program latihan segera dijalankan. Hasilnya mulai terlihat. Fisik pemain membaik, mental pemain meningkat dan hasul uji coba mulai menunjukkan grafik positif. Kuncinya ada di Fisik dan Mental. Eksterior dan Interior.


Nah.., nasib seseorang itu seperti itu. Yang sepatutnya dirubah adalah ranah fisik dan mental. 


Sayangnya banyak orang yang berfokus pada rutinitas fisik saja. Banyak orang yang kerja keras, berangkat pagi pulang petang, dengan rutinitas yang sama selama bertahun-tahun namun kehidupannya seolah tidak banyak berubah. Kalau ditanya apa sebabnya mereka selalu menjawab ; “Saya sudah bekerja sangat keras”. Mereka jarang memberi jawaban analitis atas apa kekurangan mereka.


Disinilah posisi kebanyakan  orang, jarang mau merenung atas apa kekurangan diri termasuk saya juga wkwkwk..πŸ˜†


Salahnya dimana ?


Hemat saya adalah kurangnya pemahaman atas fungsi otak manusia yang sudah dibuat oleh Tuhan sedemikian rumit agar mampu memperluas pemahaman yang ujungnya adalah merubah Belief, merubah keyakinan, merubah cara pandang tentang kehidupan. Semua yang saya sebut diatas adalah pekerjaan mental. Sekali mentalitas seseorang berubah maka perubahanya akan terlihat pada tampilan fisik dan prilakunya.


Saya melihat orang-orang yang susah berkembang kehidupanya adalah orang2 yang malas belajar diluar apa yang rutin dia kerjakan. Mereka terjebak dalam rutinitas. 


Sinap otaknya yang tersambung dari dulu hingga sekarang ya itu2 saja. Tidak bertambah namun menebal. 


Padahal opsi kemungkinan yang sudah ditulis di “lauh mahfuz” atau di “The Field” hanya bisa diakses oleh bertambahnya jumlah sinap di otak.


Bertambahnya sambungan sinap di otak berarti

bertambahnya pengetahuan,

bertambahnya wawasan,

bertambahnya perbendaharaan jalan keluar dari suatu masalah, 

bertambahnya pilihan yang semakin luas.


Kebanyakan orang juga terjebak pada ikut training yang berhubungan dengan pekerjaan spesifiknya. Jelas ini tidak salah. Ini berguna untuk memperkuat  dan menebalkan sambungan sinap yang sudah ada. Sayangnya mereka sangat malas untuk sekedar mendengarkan atau membaca ilmu2 kehidupan, tentang kesadaran dan tentang mekanisme semesta.


Akhirnya mereka terperangkap dan terjebak pada rutinitas kerja. Skill meningkat namun mental tidak ubahnya seperti robot. Kerja kerja kerja, duit duit duit. Kerja = duit. Belief ini tertanam kuat. Ujung2 nya timbul keyakinan bahwa sumber duit atau rezeki adalah pekerjaan. Tuhanya telah berubah.


Pekerjaan bagi mereka menunjukkan eksistensi, prestise dan sumber duit. Pribadinya menjadi sangat tergantung pada factor ekterior diluar dirinya seperti saya sebutkan diatas. Pencapaian tertinggi mereka adalah Kebanggaan yang menempel pada factor prestise dan duit itu tadi. Kalau dalam istilah Hawkins mereka ini terjebak dalam “force”.


Apa yang dikerjakan oleh mereka menjadi sangat miskin makna. Padahal yang membuat manusia beda dari binatang adalah kemampuan untuk memberi makna pada apa yang dikerjakanya. Pencapaian mental tertinggi kaum force adalah kesenangan bukan kebahagiaan. Kesenangan itu eksterior, kebahagiaan itu interior. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mulai menyadari makna. Kalau dalam istilah Hawkins kaum yang mulai bisa menyadari makna ini disebut “power”.


Yang perlu disadari.


Bahwa anda diciptakan di dunia ini dengan tujuan tertentu. Ini premis dasar karena semua berasal dari sini. Kalau gagal memahami ini maka anda kehilangan makna. Sekali anda kehilangan makna, maka kehidupan anda akan jatuh di “force”. Sekali anda jatuh di “force” maka semua aspek kehidupan sedemikian sulit bagi anda, termasuk masalah ekonomi. Kalaupun anda berdaya secara ekonomi dsb maka level tertinggi yang anda capai adalah kesenangan bukan kebahagiaan. Hidup anda hanya akan berputar-putar dari sedih, takut, marah, bangga.


Ketika seseorang mulai menyadari makna. Bahwa dirinya diciptakan dengan segala kapasitas yang ada untuk tujuan tertentu. Maka yang diperkuatnya kemudian setelah bidang kontribusinya adalah wawasan tentang keu-Tuhan, Oneness, Wahdaniah, ke-satu-an, ke-esa-an. Dengan memahami ini, maka ia akan mudah menyadari sinkronisitas bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Ketika menyadari tidak ada yang bersifat kebetulan maka ia menyadari bahwa ia sekedar hologram dari Sang Maha Cerdas sumber cahaya dari segala cahaya.


Ia menyadari bahwa bentuknya yang sempurna dengan segala kapasitas otak yang diberikan padanya adalah tools untuk memilih opsi sudah jadi yang telah dicetak pada plat The Field. Ia menyadari bahwa The Field atau Lauh Mahfuz adalah ketetapan sekaligus opsi yang belum terjadi sebelum “diamati” atau “diberi perhatian” atau “dipilih” olehnya secara sadar. Ia menyadari bahwa didalam dirinya ada “Ma’ani” yang mampu terhubung kepada “Ma’nawiyah” yang ada pada-Nya.


Begitulah karena semua sinkron, maka perubahan nasib bisa terjadi ketika “Iradhat” terhubung dengan “Muridun”, ketika “Qudrat” terhubung dengan “Qodirun”, ketika “ilmu” terhubung dengan “Ilmun”, ketika “Hayat” terhubung dengan “Hayun”, ketika “Sama’” terhubung dengan “Samiun”, ketika “Bashar” terhubung dengan “Bashirun”, ketika “Kalam” terhubung dengan “Mutakalimun”.


Perubahan nasib terjadi ketika ada titik lebih baik yang akan dituju. Penelitian Hawkins menunjukkan bahwa orang yang berada di “power” cendrung lebih bahagia dan secara ekonomi biasanya lebih baik dari mereka yang terperangkap di “force”.


Simpulan sederhana subyektif saya adalah “makna” membawa perubahan besar dalam hidup kita. Berbeda dengan binatang yang diberi kelebihan “otot” untuk mendapatkan rezekinya, kita manusia diberi kelebihan “Otak” untuk mendapatkan dan menempelkan “makna” dalam mempermudah menjalani hidup dan mendapatkan rezekinya. Wallohualam.


Semoga manfaat....

〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

Abundance Race Day 22

 πŸ― Materi Abundance Race 22🏯


🀝🏻 KONTRIBUSI ITU SUMBER UANG 🀝🏻


“Bila suatu bisnis makin tergantung pada uang, semakin kecil kemungkinannya untuk sukses”

– Mark McCormark -


Dan begitulah…, tahun 1957 Standard & Poors menyusun 500 daftar perusahaan terbaik. Empat puluh Sembilan tahun kemudian, dari 500 perusahaan itu hanya tersisa 16% atau  74 perusahaan yang masih layak masuk dalam peringkat terbaik, sisanya 84% atau 426 perusahaan nyungsep, hilang dari peredaran. 


Penyebabnya ternyata bukan karena masalah finansial, salah urus atau miss management namun karena ketidak patuhan atau pelanggaran pada “nilai” dan “moralitas” etika bisnis. (paragraph ini saya sitasi dari tulisan Pak Jamil Azzaini)


Adalah DR. Gay Hendricks dan DR. Kute Ludeman Dalam bukunya The Corporate Mystics yang menyimpulkan bahwa Pemimpin yang akan sukses di abad 21 adalah pemimpin yang mempunyai visi spiritual dalam hidupnya.


Spiritual disini bukan berarti semata jago dalam ibadahπŸ˜‚πŸ˜‚. Spiritual disini adalah pemberian “Nilai dan makna” dalam karya usaha mereka. Mereka bukan sekedar ingin “mencetak uang” dalam bisnisnya mereka mencetak kebermanfaatan dalam bisnisnya jauh melebihi dari sekedar nilai dari uang..πŸ€—


Setelah membaca dari berbagai sumber tentang masalah ini. Saya jadi kepikiran; kalau perusahaan besar dengan manajemen bagus dan sumber finansial tak terbatas bisa nyungsep dalam kurun 49 tahun, apatah lagi saya yang secara personal dari sisi manajemen dan finansial tidak ada seujung kuku mereka.


Kalau sebuah perusahaan dengan manajemen yang relative bagus hanya perlu waktu 49 tahun untuk nyungsep, tentu kalau dalam skala individual dalam benak saya nyungsepnya akan lebih cepat lagi.


Saya pernah mengalami masa dimana mentalitas saya berkata bahwa semua skill dan keahlian yang saya miliki ujung-ujungnya adalah uang. 


Saya professional dan perfeksionis, namun saat mengalami mentalitas itu, masalah tidak pernah pergi terlalu jauh dari hidup saya.


Hingga suatu ketika, level kesadaran saya bergerak naik, karena semua terasa mentok dan buntu. Saya berserah dan menyerahkan semuanya, mentalitas lama saya perlahan saya kikis habis kecuali profesionalitas, integritas dan kredibilitas. Semenjak saat itu semuanya jadi terasa lebih mudah, lebih berkah, lebih mudah bersyukur, lebih mudah tersenyum πŸ˜…πŸ˜….


Kadang sebuah peringatan yang pernah kita baca, bahkan barangkali berulang membacanya tidak akan menimbulkan bekas, apalagi kesan, hingga kita dibenturkan pada sebuah masalah. Barulah setelah kita kepentok, kemudian kita sadar makna dari sebuah nasihat setelah kita “mengalaminya”. 


Begitulah kadang orang bebal seperti saya harus dijedotkan kepalanya agar sadar πŸ˜‚.


Nasihat ini dulu sekali pernah saya baca, namun ya sekedar menjadi sebuah “kata-kata bijak” saja buat saya saat itu πŸ˜‚wkwkwk.


Saya tidak tahu apakah anda pernah membaca nasihat ini.


πŸ‘‡πŸ»πŸ‘‡πŸ»πŸ‘‡πŸ»πŸ‘‡πŸ»πŸ‘‡πŸ»

[10:51 PM, 5/3/2021] Bang Fahmi: “Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun hanya dunia yang ada di pikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 (empat) penyakit dalam dirinya: Kebingungan yang tiada putusnya, Kesibukan yang tidak ada ujungnya Kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan Keinginan, yang tidak tercapai." (HR. Ath Thabrani).


Kita spot lagi ya…:

1. Kebingungan yang tiada putusnya

2. Kesibukan yang tidak ada ujungnya

3. Kebutuhan yang tidak terpenuhi

4. Keinginan, yang tidak tercapai


Jujur, saya pernah mengalaminya, entahlah dengan anda..


Barulah setelah saya memperbaiki mindset saya, berserah dan menyerahkan semua urusan padaNya. Pengalaman-pengalaman yang biasanya juga hanya pernah saya baca, menghampiri kehidupan saya. 


Tidak heran Nabi Muhammad pernah berpesan ini dalam hidupnya;


"Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat maka dia mendapatkan tiga perkara:

1. Allah menjadikan kecukupan di hatinya;

2. Allah mengumpulkan urusannya; dan

3. Dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina (dunia datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita kejar).


Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara:

1. Allah menjadikan kemelaratan ada di depan mata;

2. Allah mencerai-beraikan urusannya; dan

3. Dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja."

(HR.At-Tirmidzi).


Dalam bahasa yang lebih universal, saya menyebut urusan akhirat ini sebagai “Kontribusi” kita bagi berjalanya mekanisme semesta. Kita tidak lagi terpenjara dalam ego kita untuk “mendapatkan” namun lebih pada memaknai hidup dengan apa yang bisa kita berikan pada mekanisme semesta, pada kebermanfaatan kita. Memahami bahwa sebaik-baik menusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi menusia lain dan semesta begitu ujar nabi Muhammad.


Yah… begitulah pelajaran yang saya dapat setelah kejedot masalah dalam hidup saya… saya tidak tahu, namun setelah kejadian itu juga saya baru bisa terima bahwa kadang bukan kesenangan yang mendewasakan kita, namun sebaliknya masalah lah yang membuat kita bisa terbuka mata.


Oke deh sepertinya sudah cukup panjang untuk malam ini....semoga proyek2 impianya lancar dan ide terus mengalir....


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

Abundance Race Day 21

 πŸ― Materi Abundance Race 21🏯



MENTAL BLOCK PEMISAHAN DUNIA-AKHIRAT


Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan Sang Bijak, beliau menyoroti mengapa orang yang mengaku beragama (kenal Tuhan) kog hidupnya masih sangat susah..😊 


Ini seperti kontra produktif dengan semua karakter Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi Rezeki, Maha Kaya dan sebagainya.


Kemudian salah satu senior saya menimpali, ini mungkin karena pemahaman yang salah, karena mereka memisah antara kehidupan dunia dan akhirat. Buat mereka ibadah akhirat itu hanya ritual seperti sholat, mengaji, dzikir dan sebagainya 😊. 


Sementara kegiatan kebermanfaatan seperti bekerja, mencangkul, mengajar dan sebagainya bukan ibadah akhirat.


Apakah mereka tidak tahu bahwa semua upaya menebar kebermanfaatan adalah pekerjaan akhirat ?


Hemat saya sih mereka sangat tahu akan hal itu. Mereka mengenalnya dengan istilah “pahala”. Hanya barangkali masalahnya ada di konsep “pahala” ini yang mengalami distorsi saat turun di PBS (pikiran bawah sadar) nya.

[5:29 AM, 5/3/2021] Bang Fahmi: Maksudnya begini...

Sebagaimana kita ketahui kata “pahala” hampir selalu dihubungkan dengan kata “surga” jadi jargonya “ingat pahala – ingat surga”. Nah “surga” itu dibenak mereka hanya ada di dimensi “akhirat”. Sehingga kalau mereka berbuat “pahala” maka nanti balasanya di “surga” di “akhirat”.


Jadi sepertinya ada korelasi pemahaman antara pemisahan konsep dunia-akhirat  dengan pemahaman pahala-surga ini. Begitu konsep ini nyambung maka yang terjadi adalah anggapan bahwa hidup di dunia ini adalah konsep “struggle of life-perjuangan hidup” bukan konsep “Rahmatan lil alamin-rahmat bagi semesta”.

[5:30 AM, 5/3/2021] Bang Fahmi: Bayangkan bagaimana jika konsep ini (struggle of life) diterima oleh PBS (Pikiran Bawah Sadar) anda...? Sekali PBS menanamkan ini maka tugas pikiran sadar adalah mengabulkan apa yang ada di PBS. Kalau bahasa hadis qudsi nya “Aku sebagaimana sangka hambaKU padaKU…”.


Nah… kalau sudah paham ini yang diterima PBS maka informasi apapun yang bertentangan dengan ini akan ditolak. Paham ini (yang tertanam di PBS) hanya menerima bahwa kalau kita berbuat pahala maka balasanya di surga.


Padahal di Surat Al Isra ayat 7, An Nahl ayat 97 (silakan di googling ya…) diterangkan,  intinya bahwa kalau kita berbuat baik maka kebaikan itu akan kembali pada kita, pada kehidupan kita. Kedua ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan dan itu terjadi di dunia ini juga, bukan saja berbalas di akhirat kelak.

[5:33 AM, 5/3/2021] Bang Fahmi: Nah informasi penting dari ayat-ayat diatas ini akan ditolak oleh PBS, karena belief nya adalah “struggle of life-perjuangan hidup”. Hidup adalah perjuangan.


Sepertinya sepele ya…πŸ˜‚ namun hemat saya pemahaman yang menurut saya kurang pas ini, jadi tidak memberdayakan bagi si pemilik paham ini sendiri. Hidupnya di dunia tertatih-tatih karena salah konsep besar (believe) yang diadopsinya entah dari mana.


Konsep pemisahan dunia-akhirat sebenarnya tidak dikenal dalam ajaran agama, konsep ini muncul saat abad pertengahan di barat ketika para penguasa memisahkannya karena tujuan politik (betulkan ya kalau saya salah…).


Dalam paham saya, tidak ada kegiatan di dunia ini yang tidak bernilai akhirat..😊 Semua hal bisa anda switch ke nilai akhirat jika anda mau.


Misal anda guru, anda mengajar tidak lagi asal-asalan, asal materi selesai, lalu awal bulan dapat gajih. Anda akan mengajar dengan sepenuh jiwa dengan bahagia, menjadi sangat kreatif menciptakan media pembelajaran karena anda menggeser nilai mengajar anda ke nilai spiritual. Anda menanamkan pada diri anda bahwa anda adalah “petugas Tuhan” yang sedang menyiapkan generasi penerus yang cerdas dan berahlak mulia demi keberlangsungan dunia yang beradab dan bertakwa pada Tuhan yang maha Esa. Pertanyaan saya kalau anda sudah menanamkan nilai spiritual ini - nilai akhirat ini, apakah output dan outcome pekerjaan anda sebagai guru akan sama dengan sebelumnya ? Saya percaya hasilnya akan jauh berbedaπŸ˜„πŸ˜„πŸ™πŸ™


Hemat saya memahami konsep pahala ini penting karena konsep ini akan menjadi “dasar” dari beroperasinya semua tindakan, ucapan, rasa dan gelombang elektromagnetik yang dihasilkanya. Sehingga dalam pandangan saya “kesadaran” tentang makna pahala itulah kuncinya. Pahala itu ga ada bentuknya... ia berupa energi... kalau sudah berubah wujud baru ada bentuknya. Ia bisa berubah jadi materi  jadi uang dan sebagainya dan sebagian menjadi non materi berupa kebahagiaan... ketenangan.


Maka dengan istilah yang berbeda pahala adalah energi positif yang kita tabung tanpa kita menyadarinya.


Saat kita berniat mencari pahala ... niat awal ini pada “level kesadaran pemula” akan baik hasilnya... namun pada “level kesadaran berikutnya”, niat mencari pahala justru mereduksi makna pahala itu sendiri.


Prilaku penebar energi positif yg sudah menjadi karakter sehingga berlaku otomatis tanpa memikirkan apakah ia mendapat pahala atau tidak, itulah “level kesadaran berikutnya”.


Ia tidak lagi hidup untuk pahala ... tidak juga mengejar surga... ia menerima hidupnya... menerima peranya... dan menjalankannya dengan bahagia demi menebar rahmat bagi semesta... itulah sejatinya pahala. Tidak lagi melekat pada kriteria yang memenjarakan logika. Baginya tidak lagi ada dikotomi dunia-akhirat. Dunia adalah fase perjalanan hidupnya di akhirat. Dunia-akhirat adalah kontinuitas bukan pemisahan.


Tentu semesta tak pernah lupa mencatatkan energi positif yg ditebarnya... dan pasti akan kembali padanya dalam bentuk kecukupan dan pemenuhan kebutuhanya di dunia dan di akhirat kelak .


Pahala itu bukan usaha... pahala itu karakter.... karakter itu yang melihat dan menilai orang lain bukan diri sendiri.... selama masih duduk diusaha berarti belum jadi karakter ... selama masih merasa agar berpahala berarti belum menjadi karakter... namun memang semuanya dimulai dari titik ini.... awalnya usaha... kemudian terbiasa... akhirnya lupa .... pada posisi melakukan usaha pahala namun lupa bahwa itu usaha pahala inilah karakter mulai tercipta... dan disinilah sebenar pahala sesungguhnya.


Karakter itu otomatis... vibrasinya dihasilkan dari alam bawah sadar sehingga lebih kuat... lebih ikhlas... lebih alami........ pada posisi ini mekanisme semesta akan lebih mudah mengkonversi nya menjadi hal2 yg diperlukan penebarnya.... energi ke energi.... pahala ke rezeki ....


Baiklah saya rasa cukup untuk saat ini semoga ada manfaatnya πŸ™πŸ™


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

Abundance Race Day 20

 ☕ REZEKI TIDAK AKAN TERTUKAR☕


Pernah dengar istilah di atas kan…? Nah beberapa minggu lalu ada sebuah peristiwa yang bisa menjelaskan ini dengan “mudah-mudahan” cukup jelas.


Seperti biasa karena “kemalasan” πŸ˜… saya membersihkan halaman rumah yang cuma seuplik itu dari rumput liar. Saya mencari tukang bersih-bersih rumput. Mama R yang biasa melakukan tidak bisa dihubungi, mas P yang pernah saya mintai bantuan juga tidak bisa dihubungi. Kami menunggu beberapa hari sambil mencari orang dan terus berusaha menghubungi kedua orang tersebut namun tidak berhasil juga.


Lalu istri saya berinisiatif menanyakan pada tetangga sebelah tukang bersih-bersih rumput yang biasa di mintai tolong oleh nya. Singkat cerita setelah nomornya diberi kami hubungi dan  sepasang orang tua datang memebrsihkan halaman rumah kami.


Hasil kerjanya bagus dan bersih. Saya puas dengan hasil kerjanya.


Sebelum pulang bapak dan ibu tersebut saya Tanya dimana rumahnya. Lalu mereka menjawab dimana mereka tinggal. Rupanya mereka baru saja pindah rumah karena rumah mereka sekaligus tempat usaha mereka yang asalnya dipinggir jalan besar terjual untuk membayar hutang anaknya.


Mereka tidak sanggup lagi diintimidasi para preman yang menagih hutang anaknya pada mereka.


Mereka sekarang tinggal digubug kecil yang mereka bangun dari sisa uang mereka. Mereka bilang kalau malam mereka sibuk menutup pintu rumah dengan memaku triplek bekas sekedar agar angin tidak masuk ke rumah mereka.


Di lain sisi… saya memiliki panel pintu dari kayu ulin yang tidak terpakai. Sudah sejak kurang lebih setahun yang lalu panel pintu ini saya simpan.


Saya berharap suatu saat ada orang yang membutuhkan panel pintu ini, lengkap dengan engsel dan kuncinya. Setelah hampir setahun barulah si calon pemilik panel pintu yang sudah saya cadangkan itu datang.

[1:30 PM, 5/2/2021] Bang Fahmi: Itu artinya Tuhan sudah menyiapkan rezeki bagi bapak dan ibu tadi katakanlah setahun lalu, sebelum kejadian mereka harus menjual rumah dipinggir jalan dan harus pindah ke rumah barunya saat ini.


Peristiwanya pun harus melalui proses ketidak berhasilsan kami menghubungi mama R dan mas P yang biasanya membantu kami membersihkan rumput di halaman.


Sepertinya waktunya sudah diatur pada saat yang tepat. Saya sudah mengirimkan sinyal pada semesta bahwa saya punya panel pintu yang bisa digunakan orang yang memerlukan hampir setahun lalu, dan selama waktu itu rupanya tidak ada doa yang meminta rezeki panel pintu itu. Bahkan barangkali si bapak dan ibu tadi selama waktu itu juga belum perlu panel pintu itu. Bahkan barangkali belum membangun gubugnya dimana saat ini mereka tinggal. Kalaupun sudah terbangun barangkali situasi dan kebutuhan akan pintu itu belum sedemikian mendesak karena ketiadaan biaya untuk membelinya.


Begitulah…sepertinya Allah telah mengijabah doa nya, yang perlu pintu itu dengan mempertemukan kami, melalui “kemalasan” saya membersihkan rumput dihaman rumah saya yang cuma secuil ituπŸ˜‚.


Allah menurunkan rezeki pada saat yang tepat dan jalan yang tidak disangka sangka.


Singkat cerita saya dengan sopan menawarkan panel pintu yang ada dan beliau dengan senang menerimanya. Alhamdulillah saya lega…. Karena jujur menyimpan pintu itu memakan tempat bagi saya. Sekarang semuanya happy… saya happy karena ruangan menjadi lebih lega dan bersih dan semoga bapak dan ibu itu juga happy karena sekarang mereka tidak perlu lagi resah kalau malam tiba. 


Entahlah… semoga kehidupan mereka menjadi lebih baik.


Pelajaran apa yang bisa kita petik dari cerita saya ini….. saya percaya setiap orang memaknainya dengan cara berbeda. Terserah anda bagaimana cara memaknai cerita ini….


Semoga ada manfaat nya… terimakasih.


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️🧘🏻‍♀️

Abundance Race Day 29

 πŸ― Materi Abundance Race 29🏯 🧘🏻‍♂️ RELATIVITAS WAKTU , KETENANGAN JIWA dan REZEKI 🧘🏻‍♀️ Pernah tidak mengalami, saat kita sedang dalam...