π― Materi Abundance Race 21π―
MENTAL BLOCK PEMISAHAN DUNIA-AKHIRAT
Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan Sang Bijak, beliau menyoroti mengapa orang yang mengaku beragama (kenal Tuhan) kog hidupnya masih sangat susah..π
Ini seperti kontra produktif dengan semua karakter Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi Rezeki, Maha Kaya dan sebagainya.
Kemudian salah satu senior saya menimpali, ini mungkin karena pemahaman yang salah, karena mereka memisah antara kehidupan dunia dan akhirat. Buat mereka ibadah akhirat itu hanya ritual seperti sholat, mengaji, dzikir dan sebagainya π.
Sementara kegiatan kebermanfaatan seperti bekerja, mencangkul, mengajar dan sebagainya bukan ibadah akhirat.
Apakah mereka tidak tahu bahwa semua upaya menebar kebermanfaatan adalah pekerjaan akhirat ?
Hemat saya sih mereka sangat tahu akan hal itu. Mereka mengenalnya dengan istilah “pahala”. Hanya barangkali masalahnya ada di konsep “pahala” ini yang mengalami distorsi saat turun di PBS (pikiran bawah sadar) nya.
[5:29 AM, 5/3/2021] Bang Fahmi: Maksudnya begini...
Sebagaimana kita ketahui kata “pahala” hampir selalu dihubungkan dengan kata “surga” jadi jargonya “ingat pahala – ingat surga”. Nah “surga” itu dibenak mereka hanya ada di dimensi “akhirat”. Sehingga kalau mereka berbuat “pahala” maka nanti balasanya di “surga” di “akhirat”.
Jadi sepertinya ada korelasi pemahaman antara pemisahan konsep dunia-akhirat dengan pemahaman pahala-surga ini. Begitu konsep ini nyambung maka yang terjadi adalah anggapan bahwa hidup di dunia ini adalah konsep “struggle of life-perjuangan hidup” bukan konsep “Rahmatan lil alamin-rahmat bagi semesta”.
[5:30 AM, 5/3/2021] Bang Fahmi: Bayangkan bagaimana jika konsep ini (struggle of life) diterima oleh PBS (Pikiran Bawah Sadar) anda...? Sekali PBS menanamkan ini maka tugas pikiran sadar adalah mengabulkan apa yang ada di PBS. Kalau bahasa hadis qudsi nya “Aku sebagaimana sangka hambaKU padaKU…”.
Nah… kalau sudah paham ini yang diterima PBS maka informasi apapun yang bertentangan dengan ini akan ditolak. Paham ini (yang tertanam di PBS) hanya menerima bahwa kalau kita berbuat pahala maka balasanya di surga.
Padahal di Surat Al Isra ayat 7, An Nahl ayat 97 (silakan di googling ya…) diterangkan, intinya bahwa kalau kita berbuat baik maka kebaikan itu akan kembali pada kita, pada kehidupan kita. Kedua ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan dan itu terjadi di dunia ini juga, bukan saja berbalas di akhirat kelak.
[5:33 AM, 5/3/2021] Bang Fahmi: Nah informasi penting dari ayat-ayat diatas ini akan ditolak oleh PBS, karena belief nya adalah “struggle of life-perjuangan hidup”. Hidup adalah perjuangan.
Sepertinya sepele ya…π namun hemat saya pemahaman yang menurut saya kurang pas ini, jadi tidak memberdayakan bagi si pemilik paham ini sendiri. Hidupnya di dunia tertatih-tatih karena salah konsep besar (believe) yang diadopsinya entah dari mana.
Konsep pemisahan dunia-akhirat sebenarnya tidak dikenal dalam ajaran agama, konsep ini muncul saat abad pertengahan di barat ketika para penguasa memisahkannya karena tujuan politik (betulkan ya kalau saya salah…).
Dalam paham saya, tidak ada kegiatan di dunia ini yang tidak bernilai akhirat..π Semua hal bisa anda switch ke nilai akhirat jika anda mau.
Misal anda guru, anda mengajar tidak lagi asal-asalan, asal materi selesai, lalu awal bulan dapat gajih. Anda akan mengajar dengan sepenuh jiwa dengan bahagia, menjadi sangat kreatif menciptakan media pembelajaran karena anda menggeser nilai mengajar anda ke nilai spiritual. Anda menanamkan pada diri anda bahwa anda adalah “petugas Tuhan” yang sedang menyiapkan generasi penerus yang cerdas dan berahlak mulia demi keberlangsungan dunia yang beradab dan bertakwa pada Tuhan yang maha Esa. Pertanyaan saya kalau anda sudah menanamkan nilai spiritual ini - nilai akhirat ini, apakah output dan outcome pekerjaan anda sebagai guru akan sama dengan sebelumnya ? Saya percaya hasilnya akan jauh berbedaππππ
Hemat saya memahami konsep pahala ini penting karena konsep ini akan menjadi “dasar” dari beroperasinya semua tindakan, ucapan, rasa dan gelombang elektromagnetik yang dihasilkanya. Sehingga dalam pandangan saya “kesadaran” tentang makna pahala itulah kuncinya. Pahala itu ga ada bentuknya... ia berupa energi... kalau sudah berubah wujud baru ada bentuknya. Ia bisa berubah jadi materi jadi uang dan sebagainya dan sebagian menjadi non materi berupa kebahagiaan... ketenangan.
Maka dengan istilah yang berbeda pahala adalah energi positif yang kita tabung tanpa kita menyadarinya.
Saat kita berniat mencari pahala ... niat awal ini pada “level kesadaran pemula” akan baik hasilnya... namun pada “level kesadaran berikutnya”, niat mencari pahala justru mereduksi makna pahala itu sendiri.
Prilaku penebar energi positif yg sudah menjadi karakter sehingga berlaku otomatis tanpa memikirkan apakah ia mendapat pahala atau tidak, itulah “level kesadaran berikutnya”.
Ia tidak lagi hidup untuk pahala ... tidak juga mengejar surga... ia menerima hidupnya... menerima peranya... dan menjalankannya dengan bahagia demi menebar rahmat bagi semesta... itulah sejatinya pahala. Tidak lagi melekat pada kriteria yang memenjarakan logika. Baginya tidak lagi ada dikotomi dunia-akhirat. Dunia adalah fase perjalanan hidupnya di akhirat. Dunia-akhirat adalah kontinuitas bukan pemisahan.
Tentu semesta tak pernah lupa mencatatkan energi positif yg ditebarnya... dan pasti akan kembali padanya dalam bentuk kecukupan dan pemenuhan kebutuhanya di dunia dan di akhirat kelak .
Pahala itu bukan usaha... pahala itu karakter.... karakter itu yang melihat dan menilai orang lain bukan diri sendiri.... selama masih duduk diusaha berarti belum jadi karakter ... selama masih merasa agar berpahala berarti belum menjadi karakter... namun memang semuanya dimulai dari titik ini.... awalnya usaha... kemudian terbiasa... akhirnya lupa .... pada posisi melakukan usaha pahala namun lupa bahwa itu usaha pahala inilah karakter mulai tercipta... dan disinilah sebenar pahala sesungguhnya.
Karakter itu otomatis... vibrasinya dihasilkan dari alam bawah sadar sehingga lebih kuat... lebih ikhlas... lebih alami........ pada posisi ini mekanisme semesta akan lebih mudah mengkonversi nya menjadi hal2 yg diperlukan penebarnya.... energi ke energi.... pahala ke rezeki ....
Baiklah saya rasa cukup untuk saat ini semoga ada manfaatnya ππ
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
No comments:
Post a Comment