Wednesday, May 5, 2021

Abundance Race Day 23

 πŸ― Materi Abundance Race 23🏯


πŸ¦‹ MERUBAH NASIB πŸ¦‹


Emang nasib bisa dirubah ?


Saya tidak tahu kalau menurut anda. Kalau menurut saya sih bisa. Karena nasib adalah himpunan besar segala kemungkinan yang sudah ditetapkan olehNya. Opsi mewujudkan kemungkinan semakin mudah dicapai oleh mahluk dengan jumlah sel otak terbanyak di bumi yakni manusia.


Misal begini. Timnas Vietnam secara mengejutkan menjadi raja di ASEAN beberapa tahun terakhir bahkan levelnya di tingkat ASIA mulai diperhitungkan. Perubahan nasib sepak bola Vietnam di mulai saat federasi memilih Park Hang Seo sebagai pelatih. Pelatih ini jeli melihat kekurangan dan kelebihan timnas Vietnam. Membuat bencmarking, menetapkan target dan menyusun rencana kerja untuk mencapai target.


PSSI cepat belajar dari kasus Vietnam, mereka mendatangkan pelatih dari Korea Selatan juga namanya Shin Tae Yong. Ga main2, Tae Yong adalah pelatih kelas dunia. Teknik kepelatihan dan metodenya sudah pernah teruji waktu mengalahkan Jerman di Piala Dunia.


Segera setelah Tae Yong datang, ia memotret kondisi timnas Indonesia. Kelemahan segera diketahui, kelebihan menjadi catatan. Roadmap segera dibuat dan metode serta program latihan segera dijalankan. Hasilnya mulai terlihat. Fisik pemain membaik, mental pemain meningkat dan hasul uji coba mulai menunjukkan grafik positif. Kuncinya ada di Fisik dan Mental. Eksterior dan Interior.


Nah.., nasib seseorang itu seperti itu. Yang sepatutnya dirubah adalah ranah fisik dan mental. 


Sayangnya banyak orang yang berfokus pada rutinitas fisik saja. Banyak orang yang kerja keras, berangkat pagi pulang petang, dengan rutinitas yang sama selama bertahun-tahun namun kehidupannya seolah tidak banyak berubah. Kalau ditanya apa sebabnya mereka selalu menjawab ; “Saya sudah bekerja sangat keras”. Mereka jarang memberi jawaban analitis atas apa kekurangan mereka.


Disinilah posisi kebanyakan  orang, jarang mau merenung atas apa kekurangan diri termasuk saya juga wkwkwk..πŸ˜†


Salahnya dimana ?


Hemat saya adalah kurangnya pemahaman atas fungsi otak manusia yang sudah dibuat oleh Tuhan sedemikian rumit agar mampu memperluas pemahaman yang ujungnya adalah merubah Belief, merubah keyakinan, merubah cara pandang tentang kehidupan. Semua yang saya sebut diatas adalah pekerjaan mental. Sekali mentalitas seseorang berubah maka perubahanya akan terlihat pada tampilan fisik dan prilakunya.


Saya melihat orang-orang yang susah berkembang kehidupanya adalah orang2 yang malas belajar diluar apa yang rutin dia kerjakan. Mereka terjebak dalam rutinitas. 


Sinap otaknya yang tersambung dari dulu hingga sekarang ya itu2 saja. Tidak bertambah namun menebal. 


Padahal opsi kemungkinan yang sudah ditulis di “lauh mahfuz” atau di “The Field” hanya bisa diakses oleh bertambahnya jumlah sinap di otak.


Bertambahnya sambungan sinap di otak berarti

bertambahnya pengetahuan,

bertambahnya wawasan,

bertambahnya perbendaharaan jalan keluar dari suatu masalah, 

bertambahnya pilihan yang semakin luas.


Kebanyakan orang juga terjebak pada ikut training yang berhubungan dengan pekerjaan spesifiknya. Jelas ini tidak salah. Ini berguna untuk memperkuat  dan menebalkan sambungan sinap yang sudah ada. Sayangnya mereka sangat malas untuk sekedar mendengarkan atau membaca ilmu2 kehidupan, tentang kesadaran dan tentang mekanisme semesta.


Akhirnya mereka terperangkap dan terjebak pada rutinitas kerja. Skill meningkat namun mental tidak ubahnya seperti robot. Kerja kerja kerja, duit duit duit. Kerja = duit. Belief ini tertanam kuat. Ujung2 nya timbul keyakinan bahwa sumber duit atau rezeki adalah pekerjaan. Tuhanya telah berubah.


Pekerjaan bagi mereka menunjukkan eksistensi, prestise dan sumber duit. Pribadinya menjadi sangat tergantung pada factor ekterior diluar dirinya seperti saya sebutkan diatas. Pencapaian tertinggi mereka adalah Kebanggaan yang menempel pada factor prestise dan duit itu tadi. Kalau dalam istilah Hawkins mereka ini terjebak dalam “force”.


Apa yang dikerjakan oleh mereka menjadi sangat miskin makna. Padahal yang membuat manusia beda dari binatang adalah kemampuan untuk memberi makna pada apa yang dikerjakanya. Pencapaian mental tertinggi kaum force adalah kesenangan bukan kebahagiaan. Kesenangan itu eksterior, kebahagiaan itu interior. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mulai menyadari makna. Kalau dalam istilah Hawkins kaum yang mulai bisa menyadari makna ini disebut “power”.


Yang perlu disadari.


Bahwa anda diciptakan di dunia ini dengan tujuan tertentu. Ini premis dasar karena semua berasal dari sini. Kalau gagal memahami ini maka anda kehilangan makna. Sekali anda kehilangan makna, maka kehidupan anda akan jatuh di “force”. Sekali anda jatuh di “force” maka semua aspek kehidupan sedemikian sulit bagi anda, termasuk masalah ekonomi. Kalaupun anda berdaya secara ekonomi dsb maka level tertinggi yang anda capai adalah kesenangan bukan kebahagiaan. Hidup anda hanya akan berputar-putar dari sedih, takut, marah, bangga.


Ketika seseorang mulai menyadari makna. Bahwa dirinya diciptakan dengan segala kapasitas yang ada untuk tujuan tertentu. Maka yang diperkuatnya kemudian setelah bidang kontribusinya adalah wawasan tentang keu-Tuhan, Oneness, Wahdaniah, ke-satu-an, ke-esa-an. Dengan memahami ini, maka ia akan mudah menyadari sinkronisitas bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Ketika menyadari tidak ada yang bersifat kebetulan maka ia menyadari bahwa ia sekedar hologram dari Sang Maha Cerdas sumber cahaya dari segala cahaya.


Ia menyadari bahwa bentuknya yang sempurna dengan segala kapasitas otak yang diberikan padanya adalah tools untuk memilih opsi sudah jadi yang telah dicetak pada plat The Field. Ia menyadari bahwa The Field atau Lauh Mahfuz adalah ketetapan sekaligus opsi yang belum terjadi sebelum “diamati” atau “diberi perhatian” atau “dipilih” olehnya secara sadar. Ia menyadari bahwa didalam dirinya ada “Ma’ani” yang mampu terhubung kepada “Ma’nawiyah” yang ada pada-Nya.


Begitulah karena semua sinkron, maka perubahan nasib bisa terjadi ketika “Iradhat” terhubung dengan “Muridun”, ketika “Qudrat” terhubung dengan “Qodirun”, ketika “ilmu” terhubung dengan “Ilmun”, ketika “Hayat” terhubung dengan “Hayun”, ketika “Sama’” terhubung dengan “Samiun”, ketika “Bashar” terhubung dengan “Bashirun”, ketika “Kalam” terhubung dengan “Mutakalimun”.


Perubahan nasib terjadi ketika ada titik lebih baik yang akan dituju. Penelitian Hawkins menunjukkan bahwa orang yang berada di “power” cendrung lebih bahagia dan secara ekonomi biasanya lebih baik dari mereka yang terperangkap di “force”.


Simpulan sederhana subyektif saya adalah “makna” membawa perubahan besar dalam hidup kita. Berbeda dengan binatang yang diberi kelebihan “otot” untuk mendapatkan rezekinya, kita manusia diberi kelebihan “Otak” untuk mendapatkan dan menempelkan “makna” dalam mempermudah menjalani hidup dan mendapatkan rezekinya. Wallohualam.


Semoga manfaat....

〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️

No comments:

Post a Comment

Abundance Race Day 29

 πŸ― Materi Abundance Race 29🏯 🧘🏻‍♂️ RELATIVITAS WAKTU , KETENANGAN JIWA dan REZEKI 🧘🏻‍♀️ Pernah tidak mengalami, saat kita sedang dalam...